EditorialGenzCornerHeadlineNews

Aktor Kampung, Gen Z Minang Apakah Tol Perlu?

Redaksi KlikGenZ
×

Aktor Kampung, Gen Z Minang Apakah Tol Perlu?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Prof. Elfindri (Guru Besar FEB Universitas Andalas, Padang)

Non State Actors (NSA), adalah kelompok masyarakat di luar pemerintah. Keberadaanya bisa jadi modal dalam pembangunan. Mereka bisa Ninik Mamak, Alim Ulama, Tokoh Masyarakat, dimana punya pengalaman, bahkan pendidikan, dan kemafhuman yang tinggi dalam bersikap dan bertindak. Namun mereka tidak mau ikut menjadi pimpinan di desa/kelurahan, dengan alasan yang beragam.

Dalam teori Abhejet Banerjee, Duflo dan Alatas (AER, 2021) Non State Actors (NSA) telah memberikan kontribusi positif dalam pembangunan, karena NSA itu memiliki pengalaman, berpendidikan, dan memiliki nilai sosial yang tinggi dibanding rata rata pimpinan di desa desa dan kelurahan.

Tapi sepertinya, Banerjee dkk. Lupa bahwa sisi positifnya bisa berlaku untuk program-program nasional, seperti bantuan sosial yang memerlukan partisipasi masyarakat. Ketika program pembangunan terpusat dan komando, maka peranan mereka tidak terasa. Bahkan, di Sumatera Barat program yang dibuat sering menimbulkan polemik yang berujung pada penolakan.

Penolakan jalan Tol, misalnya bisa menghilangkan kesempatan hidup lebih baik yang akan dirasakan Gen Z dan setelah itu.

Di Sumatera Barat berdasarkan berbagai pengalaman membangun jalan, mulai jalan By Pass Padang, perluasan jalan ruas Alai By Pass, jalan Tol Padang- Sicincin, dan banyak yang lainnya lagi, masa sukses pelaksanaan program publik itu memakan waktu lama.

Baca Juga  Tak Perlu ke Sawah! Pertamina Sukses Bawa Anak Muda Padang Bertani di Teras Rumah

Salah satunya karena berhadapan dengan NSA pada wilayah dimana aktivitas pembangunan jalan mau dilakukan. Termasuk rencana investasi PLTS Singkarak, dan di berbagai skim investasi. Semua skim investasi ini membutuhkan lapangan kerja turunan agar investasi itu berarti dan berdampak. Kesempatan yang bekal diperoleh berupa lapangan kerja terus tak jadi. Mungkin Gen Z belum terlalu merasakan dampak penolakan jalan Tol ini, kecuali memang tidak mau tau dengan kampung halaman.

Ujung-ujungnya tetap pembangunan bisa terlaksana. Namun berbelit-belit, mirip banyak pandangan yang diberikan NSA kalau diberi ruang untuk bicara.

Alasan-alasan ditinggal dalam proses pengambilan keputusan, sepertinya mengada ada, mengingat hampir semua rencana kerja itu dilalukan pertemuan dengan NSA. Begitu tahapan dalam sistem perencanaan nasional dan daerah.

Kalau terlambat itu semestinya bisa dimaklumi, karena tidak akan mungkin pemerintah tidak akan membawa untuk membicarakan proyek yang melibatkan masyarakat.

Yang bisa tetap kita berpegang kepada keyakinan dan takdir, bahwa kalau sudah campur tangan “feasible hand”, maka kalau jadi jadi itu barang.

Yang saya masih lama berfikir, kenapa NSA di Minangkabau ini tidak terlalu sensitif terhadap isu LGBT, Narkoba, dan Korupsi dan sensitif terhadap pembangunan jalan Tol?

Sebagaimana ungkapan Bung Khairul Jasmi, nagari-nagari sekarang tidak memiliki Rencana Tata Ruang, jalan-jalan poros Nagari apalagi di pinggiran kota, sempit dan tidak beraturan, banyak tanah terjepit pada ruas ke dua dari jalan utama, sehingga untuk mencari jalan masuk dalam membangun rumah tidaklah mudah, NSA disini bisa menjadi penghambat.

Baca Juga  Tak Sabar Merumput! Ole Romeny Siap Hidup Mati Demi Indonesia ke Piala Dunia

Tanah Ulayat itu milik Allah, oleh karenanya kita perlu mengelolanya untuk kepentingan banyak fihak, seperti bilamana diperlukan untuk Jalan Tol.

Reaksi Gen Z

Memang selama ini banyak tokoh masyarakat memikirkan anak keponakan, namun sebaliknya Gen Z dan sesudahnya apakah dimintakan pandangan mereka? Saya rasa tidak.

Rasanya memang jarang diajak mereka berfikir, karena masa depan Gen Z jauh lebih kompleks dari generasi yang sudah mulai tua saat ini.

Kita berharap gen Z Minang perlu duduk sesama mereka, berpikiran jernih, kemudian mengambil sikap, apakah proyek-proyek seperti yang sering gagal di kampung halaman anda dibiarkan berlarut? Apakah anda tidak merasa paling dirugikan?

Bersikaplah, jika setuju jalan Tol ditolak, demo pula mirip demo mahasiswa, namun sebaliknya jika ini merupakan strategis untuk anda ke depan, perjuangkan segera, agar penolakan penolakan yang muncul dari berbagai kalangan Ninik Mamak tidak cocok dengan aspirasi anda bersama.

Sikap kami sebagai penulis, jalan Tol manfaatnya lebih besar dari mudaratnya, ini ditinjau dari berbagai perspektif, semoga saya tidak salah.***

(Sumber artikel dari Facebook Prof. Elfindri, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Padang)