Mengalirkan Transformasi, Melampaui Bencana: Kisah Aznil Mardin Bangkitkan Tirta Anai

Dari pelantikan hingga dihantam bencana, Aznil Mardin membuktikan kepemimpinan tangguh dengan membawa Perumda Tirta Anai bangkit melalui transformasi dan investasi ratusan miliar.

Redaksi
■ Dr. H. Aznil Mardin, S.Kom, M.PdT. Firektur Tirta Anai Padang Pariaman

PADANG PARIAMAN – KLIKGENZ.COM – Langkah kaki Aznil Mardin di Hall IKK Parit Malintang pada 20 Juni 2025 menandai babak baru dalam karier profesionalnya. Di hadapan Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis (JKA), ia resmi dilantik sebagai Direktur Utama Perumda Tirta Anai.

Jabatan ini bukanlah sebuah hadiah, melainkan hasil dari ketangguhannya melewati proses seleksi ketat yang menguji visi dan kapasitas kepemimpinannya untuk lima tahun ke depan.

Sejak hari pertama menjabat, Aznil tidak membuang waktu. Ia datang dengan filosofi kerja yang jelas, “Mendengar Lebih Cepat, Melayani Lebih Baik”. Baginya, jabatan ini adalah amanah untuk melakukan transformasi pelayanan publik secara menyeluruh.

Hanya dalam hitungan minggu setelah pelantikan, ia langsung melakukan evaluasi mendalam dan penataan ulang struktur organisasi internal untuk memastikan setiap lini bekerja dengan ritme yang sama.

Salah satu terobosan utama Aznil adalah integrasi sistem IT. Ia percaya bahwa di era modern, kualitas layanan air bersih harus dibarengi dengan transparansi.

Dengan mendigitalisasi sistem, pelanggan kini dapat merasakan layanan yang lebih cepat, sementara manajemen memiliki data akurat untuk meningkatkan kualitas distribusi air di seluruh wilayah.

Aznil membawa target besar dalam saku kepemimpinannya. Ia bertekad mengejar perluasan sambungan rumah hingga mencapai 50.000 pelanggan. Tak hanya itu, ia juga tengah mematangkan rencana pengembangan produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), sebuah inovasi yang diharapkan menjadi kebanggaan daerah sekaligus mesin baru bagi pendapatan perusahaan.

Fokus Aznil tidak hanya pada pelayanan, tetapi juga aspek finansial. Ia mendorong Perumda Tirta Anai untuk menjadi entitas bisnis yang sehat dan mandiri. Target akhirnya jelas, memberikan kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Padang Pariaman.

Di bawah komandonya, Aznil Mardin sedang menulis ulang sejarah Perumda Tirta Anai. Dari sebuah lembaga birokrasi penyedia air, menjadi perusahaan daerah yang responsif, modern, dan profesional. Komitmennya tetap teguh, yakni memastikan setiap tetes air yang mengalir ke rumah masyarakat adalah bukti dari dedikasi dan transformasi yang ia usung.

Langkah Aznil untuk membawa perubahan besar di Perumda Tirta Anai tidaklah semulus yang dibayangkan. Ibarat menakhodai kapal di perairan baru, ia belum sempat menarik napas panjang setelah melakukan pembenahan internal ketika badai besar benar-benar datang menguji ketangguhannya.

Baca Juga  Sertijab Sekda Padang Pariaman, Hendra Aswara Lanjutkan Tongkat Estafet dari Rudy Repenaldi Rilis

Baru beberapa bulan menjabat, saat fondasi transformasi mulai diletakkan, sebuah bencana alam hebat melanda. Peristiwa itu terjadi begitu cepat, sekejap mata yang mengubah peta kerja Aznil dari pembangunan menjadi penyelamatan darurat.

Dalam hitungan jam, aset-aset vital yang menjadi urat nadi distribusi air bersih bagi masyarakat porak-poranda. Infrastruktur yang selama ini dirawat dengan susah payah hancur diterjang kekuatan alam. Bagi Aznil, ini bukan sekadar kerugian materiil, melainkan pukulan telak terhadap komitmen pelayanan yang baru saja ia perkuat.

Kepemimpinan Aznil berada di titik nadir di antara puing-puing aset yang hancur. Dua beban berat menghimpitnya seketika, kerusakan teknis yang melumpuhkan pipa-pipa induk beserta sumber air yang tercemar, serta pudarnya kepercayaan warga yang kian mendesak akan kebutuhan air bersih di tengah kemelut bencana.

Bukannya surut, Aznil justru menunjukkan jati dirinya sebagai pemimpin lapangan. Ia tidak hanya berdiri di belakang meja, tetapi turun langsung memantau titik-titik kerusakan. Baginya, bencana ini adalah “ujian api”, sebuah pembuktian apakah visi kebaikan yang ia bawa cukup kuat untuk bertahan di masa sulit atau runtuh bersama infrastruktur yang ada.

Peristiwa ini menjadi babak krusial dalam perjalanan karier Aznil di Tirta Anai. Ia menyadari bahwa membangun perusahaan daerah bukan hanya soal manajemen keuangan atau birokrasi, melainkan tentang resiliensi kemampuan untuk bangkit kembali lebih kuat setelah dijatuhkan oleh keadaan yang tak terduga.

Momen kelam ini pada akhirnya menjadi titik balik yang mempererat solidaritas tim di bawah arahannya, membuktikan bahwa di bawah kepemimpinan Aznil, Perumda Tirta Anai tidak akan menyerah pada keadaan.

Bagi Aznil Mardin, akhir tahun 2025 bukan sekadar ujian manajerial, melainkan pertaruhan kemanusiaan.

Bencana hidrometeorologi yang meluluhlantakkan infrastruktur air bersih di Padang Pariaman menuntut lebih dari sekadar perbaikan teknis, ia menuntut kecepatan dan ketepatan koordinasi tingkat tinggi.

Di bawah kepemimpinannya, Perumda Tirta Anai tidak membiarkan diri larut dalam duka pascabencana. Aznil segera menggerakkan lokomotif birokrasi, melakukan lobi intensif dan maraton komunikasi dengan Pemerintah Pusat.

Baca Juga  Berpura-Pura Peduli, Ternyata Pelaku! Fakta Mengejutkan Kasus Mutilasi Padang Pariaman

Hasilnya luar biasa hanya dalam kurun waktu lima bulan, ia berhasil meyakinkan Kementerian PUPR (Ditjen Cipta Karya) dan BPBPK untuk mengucurkan dukungan masif.

Angka investasi yang berhasil diamankan berkisar antara Rp277 miliar hingga Rp500 miliar. Dana ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan napas baru bagi 12 Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang sempat lumpuh. Aznil memahami bahwa air adalah urat nadi kehidupan masyarakat, dan ia memastikan pemulihan ini berjalan di jalur cepat.

Dalam upayanya mengembalikan hak masyarakat atas air bersih, Aznil menggandeng PT Pembangunan Perumahan (Persero) untuk menyusun sebuah peta jalan pemulihan yang ambisius namun tetap terukur.

Strategi ini dirancang dengan presisi, menempatkan tahun 2026 sebagai tonggak awal perubahan besar melalui alokasi anggaran sebesar Rp204 miliar.

Fokus utamanya tertuju pada rehabilitasi 5 Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) prioritas. Bagi Aznil, proyek ini bukan sekadar urusan teknis, melainkan sebuah misi kemanusiaan.

Ia memancangkan sebuah target simbolis yang krusial, memastikan air bersih kembali mengalir di wilayah Lubuk Alung sebelum fajar Ramadhan dan Lebaran 2026 tiba, memberikan kenyamanan ibadah bagi warga di momen suci tersebut.

Menatap jauh ke depan, Aznil telah menetapkan Visi 2027 sebagai tahun penuntasan. Ia berkomitmen menyelesaikan restorasi infrastruktur secara menyeluruh, mulai dari perbaikan Intek, unit pengolahan (IPA), jaringan distribusi utama (JDU), hingga sambungan rumah (SR).

Melalui langkah sistematis ini, ia bertekad memastikan layanan air bersih kembali prima dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Keberhasilan Aznil dalam memangkas sekat birokrasi ini mendapat apresiasi tinggi dari Bupati Padang Pariaman. Ia dinilai bukan hanya sebagai direktur Utama, melainkan sebagai “arsitek pemulihan” yang mampu mengubah krisis menjadi momentum kebangkitan layanan publik.

Bagi Aznil, setiap tetes air yang kembali mengalir adalah bukti bahwa dengan koordinasi yang tepat, badai memang akan selalu berlalu. Keberhasilan ini bukan tentang satu orang, melainkan tentang bagaimana setiap elemen bergerak seirama di tengah kekacauan. [*]