Fenomena ini ramai diperbincangkan netizen di media sosial, salah satunya di TikTok. Banyak yang mengaku mengalami radang tenggorokan, kelelahan, hingga sakit perut setelah perayaan Idulfitri.
“Habis lebaran tiba-tiba radang,” tulis salah satu netizen. Sementara lainnya mengeluhkan kondisi tubuh yang drop akibat aktivitas padat selama Lebaran.
Kondisi ini turut dibenarkan oleh dokter spesialis penyakit dalam, Andi Khomeini Takdi Haruni. Ia menjelaskan, meningkatnya interaksi sosial selama Lebaran menjadi salah satu faktor utama penyebaran penyakit.
“Gangguan kesehatan seperti flu atau batuk biasanya terjadi karena orang berkumpul dalam jumlah besar. Ketika ada satu orang yang sakit, penularannya jadi sangat mudah terjadi ke orang lain,” ujarnya.
Selain itu, perubahan pola makan juga menjadi penyebab munculnya gangguan kesehatan, terutama pada sistem pencernaan.
Selama Lebaran, masyarakat cenderung mengonsumsi berbagai jenis makanan secara berlebihan, berpindah dari satu rumah ke rumah lain, sehingga risiko mengonsumsi makanan yang kurang cocok atau kualitasnya menurun menjadi lebih tinggi.
Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga menunjukkan tren serupa. Hingga 23 Maret 2026, dari 2.039 layanan kesehatan di posko mudik, tercatat tiga keluhan terbanyak yakni hipertensi, gastritis, dan cephalgia.
Gastritis sendiri merupakan peradangan pada dinding lambung yang dapat menyebabkan nyeri ulu hati, mual, muntah, hingga perut kembung. Kondisi ini umumnya dipicu oleh infeksi bakteri, penggunaan obat tertentu, hingga pola makan yang tidak teratur.
Sementara itu, cephalgia adalah istilah medis untuk sakit kepala, yang bisa disebabkan oleh kelelahan, stres, hingga kurang istirahat selama aktivitas padat Lebaran.
Kondisi ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk tetap menjaga pola hidup sehat, termasuk mengatur pola makan, cukup istirahat, serta menjaga daya tahan tubuh, terutama setelah menjalani aktivitas intens selama hari raya. [*]








