JAKARTA | KLIKGENZ.COM – Pemerintah Indonesia mendesak pihak-pihak yang terlibat konflik di Timur Tengah untuk segera menghentikan aksi saling serang. Seruan ini disampaikan menyusul meningkatnya ketegangan antara Iran, Israel dan Amerika Serikat yang berdampak pada terbatasnya akses pelayaran di Selat Hormuz.
Juru Bicara II Kementerian Luar Negeri RI, Nabyl Mulachela mengatakan, jalur pelayaran di Selat Hormuz memiliki peran vital bagi perdagangan dan transportasi laut dunia.
“Indonesia melihat bahwa akses transportasi laut di Selat Hormuz sangat penting bagi seluruh dunia. Dengan kondisi yang terjadi di Timur Tengah saat ini, dampaknya dirasakan luas oleh banyak negara,” kata Nabyl dalam press briefing di Ruang Palapa, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Ia menegaskan Indonesia mendorong Amerika Serikat dan Israel untuk menghentikan serangan terhadap Iran. Di sisi lain, Iran juga diminta menghentikan aksi militernya terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah.
“Indonesia mendorong Amerika Serikat dan Israel menghentikan serangannya terhadap Iran. Kami juga mendorong Iran agar menghentikan serangannya terhadap negara-negara Timur Tengah dan mencari solusi secara damai,” ujarnya.
Menurut Nabyl, sikap tersebut merupakan bentuk pendekatan seimbang dari Indonesia untuk menekan eskalasi konflik dan mengembalikan penyelesaian masalah ke jalur diplomasi.
“Tujuan kita adalah de-eskalasi konflik, mengurangi ketegangan dan kembali ke jalur diplomasi. Pada saat yang sama, kita juga berupaya memastikan kepentingan nasional Indonesia tetap terlindungi,” tambahnya.
Kapal Indonesia Tertahan
Ketegangan di kawasan juga berdampak langsung terhadap pelayaran Indonesia. Iran sebelumnya dilaporkan membatasi akses kapal yang melintas di Selat Hormuz setelah konflik dengan Israel yang mendapat dukungan Amerika Serikat.
Akibat situasi tersebut, empat kapal milik Indonesia sempat tertahan di jalur pelayaran strategis itu.
Dua kapal milik PT Pertamina International Shipping, yakni PIS Rinjani dan PIS Paragon, dilaporkan berhasil melintasi Selat Hormuz pada Selasa (10/3/2026).
Namun dua kapal lainnya, yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih menunggu kondisi keamanan yang memungkinkan untuk melanjutkan pelayaran di kawasan Teluk Arab.
Diplomasi Intensif Indonesia
Sementara itu, Juru Bicara I Kemlu RI, Yvonne Mewengkang memastikan pemerintah Indonesia terus melakukan komunikasi diplomatik intensif dengan pemerintah Iran.
Menurutnya, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran aktif berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk memastikan kapal-kapal Indonesia dapat melintas dengan aman.
“Dubes kita di Teheran terus berkomunikasi dengan Kemlu Iran dan otoritas terkait mengenai hal ini. Pendekatan diplomatik akan terus kami lakukan karena ini isu yang sangat krusial bagi Indonesia,” kata Yvonne.
Pemerintah berharap ketegangan di kawasan Timur Tengah segera mereda agar stabilitas jalur perdagangan global, khususnya Selat Hormuz, tetap terjaga. [*]












