JAKARTA | KLIKGENZ.COM – Upaya evakuasi aset energi strategis nasional di Selat Hormuz menghadapi tantangan serius di tengah memanasnya situasi geopolitik kawasan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengakui proses pengeluaran kapal tanker milik PT Pertamina (Persero) dari wilayah tersebut sangat kompleks dan berisiko tinggi.
“Prosesnya tidak sederhana. Banyak faktor teknis dan keamanan yang harus diperhitungkan,” ujar Bahlil.
Dua Tanker Masih Tertahan
Berdasarkan data operasional per 26 Maret 2026, dua kapal tanker raksasa Indonesia masih tertahan dan belum mendapat izin melintas di Selat Hormuz. Keduanya adalah Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang dioperasikan oleh PT Pertamina International Shipping.
Data pelacak kapal real-time dari MarineTraffic menunjukkan kedua kapal berada di titik tunggu berbeda namun masih dalam pengawasan ketat.
Pertamina Pride terpantau berada di perairan utara Dammam, sementara Gamsunoro berada di sekitar pesisir Kuwait dan Irak.
Sebelumnya, empat kapal Pertamina berada di kawasan tersebut. Dua kapal lainnya, yakni Rinjani dan Paragon, dilaporkan telah berhasil keluar dari zona merah sejak awal Maret.
Diplomasi Jadi Kunci
Di tengah situasi yang belum pasti, jalur diplomasi mulai menunjukkan perkembangan positif. Kementerian Luar Negeri RI mengonfirmasi adanya respons baik dari Iran terkait permintaan akses aman bagi kapal Indonesia.
Juru Bicara Kemenlu RI, Vahd Nabyl A Mulachela, menyebut komunikasi intensif terus dilakukan melalui Kedutaan Besar RI di Teheran.
“Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran,” ujarnya.
Namun demikian, implementasi teknis di lapangan masih memerlukan koordinasi lanjutan, sehingga belum ada kepastian kapan kedua kapal dapat melanjutkan pelayaran.
Ketahanan Energi Dijamin Aman
Menanggapi kekhawatiran publik, Bahlil memastikan kondisi ini belum mengganggu ketahanan energi nasional. Pemerintah telah menyiapkan skema mitigasi dengan mencari sumber pasokan alternatif dari negara lain.
“Kami terus melakukan negosiasi untuk membebaskan dua kapal tanker milik PIS. Kondisi ini tidak mengganggu ketahanan energi kita karena pasokan alternatif sudah disiapkan,” tegasnya.
Dampak Global Mengintai
Blokade di Selat Hormuz oleh Iran disebut sebagai bagian dari strategi menghadapi eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya menyatakan hanya kapal dari “negara sahabat” yang diizinkan melintas, termasuk China, Rusia, India, Pakistan, Irak, dan Malaysia.
Situasi di jalur vital energi dunia ini kian kritis. Laporan media internasional berbasis data MarineTraffic mencatat sekitar 1.900 kapal niaga terjebak di sekitar Selat Hormuz pada periode 20–22 Maret 2026.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko gangguan rantai pasok global, terutama sektor energi, jika solusi diplomatik tidak segera tercapai. [*]
Sumber; Suara.com











