PADANG PARIAMAN | KLIKGENZ.COM – Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman memastikan proses normalisasi Sungai Batang Anai di Nagari Anduriang, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, terus berjalan dan kini telah mencapai progres sekitar 30 persen.
Pekerjaan yang dilaksanakan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V tersebut merupakan tindak lanjut dari aspirasi masyarakat pasca-bencana banjir bandang (galodo) yang menghancurkan Jembatan Anduriang pada November 2025 lalu.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Padang Pariaman, El Abdes Marsyam, mengatakan normalisasi sungai telah dimulai sejak 15 Mei 2026 dan saat ini terus dikebut melalui penambahan alat berat di lokasi pekerjaan.
“Kondisinya saat ini normalisasi sudah berjalan hampir satu bulan dengan progres sekitar 30 persen. Setelah normalisasi selesai, kami akan melakukan perbaikan pada jembatan yang ada untuk dijadikan sebagai jembatan darurat,” ujar El Abdes, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, normalisasi dilakukan untuk mengembalikan aliran Sungai Batang Anai ke posisi semula di tengah sungai. Langkah tersebut dinilai penting karena pascabencana galodo, alur sungai mengalami pergeseran yang menghambat rencana pembangunan akses sementara bagi masyarakat.

Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman sebelumnya telah menyampaikan surat resmi kepada Balai Wilayah Sungai Sumatera V dan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat agar penanganan dampak bencana dapat segera dilakukan.
Respons cepat dari pemerintah pusat melalui BWS Sumatera V kemudian diwujudkan dengan pelaksanaan normalisasi yang saat ini masih berlangsung di lokasi terdampak.
Sementara itu, sejak robohnya Jembatan Anduriang akibat terjangan banjir bandang, ribuan warga terpaksa menggunakan rakit sederhana yang dibuat dari tong oli bekas untuk menyeberangi Sungai Batang Anai.
Kondisi tersebut dinilai sangat berisiko karena tidak memenuhi standar keselamatan transportasi penyeberangan dan berpotensi membahayakan masyarakat yang setiap hari melintasi sungai untuk beraktivitas.
Pemerintah daerah pun berkomitmen menghentikan penggunaan rakit tersebut setelah akses darurat tersedia dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Selain menyangkut keselamatan warga, putusnya Jembatan Anduriang juga memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Sektor pertanian dan perkebunan yang menjadi mata pencaharian utama warga mengalami kendala distribusi hasil produksi akibat terputusnya akses transportasi.
Dengan percepatan normalisasi Sungai Batang Anai dan rencana pembangunan jembatan darurat, pemerintah berharap mobilitas masyarakat dapat kembali normal serta aktivitas ekonomi warga segera pulih seperti sediakala. [*]











