INTERNASIONAL | KLIKGENZ.COM — Tekanan di pasar emas global kian terasa, seiring dugaan bahwa sejumlah bank sentral mulai memonetisasi cadangan emas mereka untuk menjaga likuiditas di tengah gejolak ekonomi akibat konflik geopolitik.
Asumsi tersebut mulai menemukan bukti, setelah bank sentral Turki dilaporkan menggunakan sebagian cadangan emas resminya.
Mengutip Kitco News, Sabtu (28/3/2026), data resmi menunjukkan cadangan emas Turki menyusut hampir 59 ton hanya dalam kurun waktu dua pekan terakhir.
Sementara itu, laporan dari Bloomberg menyebutkan bahwa cadangan devisa Turki yang sebagian berasal dari emas digunakan untuk menopang mata uang domestik melalui skema swap.
Skema Tukar Emas Jadi Uang
Dalam mekanisme ini, bank sentral menukar emas dengan mata uang asing atau lira, dengan perjanjian akan menukarnya kembali di masa mendatang.
Langkah tersebut menjadi indikasi tekanan likuiditas yang cukup serius, terutama di tengah dampak ekonomi dari konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Dari Pembeli Jadi Penjual
Padahal sebelumnya, berdasarkan data World Gold Council (WGC), pada Januari 2026 Turki masih memiliki sekitar 603 ton emas dengan nilai mencapai US$135 miliar.
Turki dikenal sebagai salah satu pembeli emas paling agresif dalam beberapa tahun terakhir. Namun, langkah monetisasi ini bukan yang pertama.
Pada 2023, negara tersebut pernah menjual sekitar 159 ton emas dalam periode Maret hingga Mei akibat lonjakan inflasi ekstrem dan tingginya permintaan domestik yang membebani neraca transaksi berjalan.
Meski sempat pulih dan kembali membangun cadangan emas pada pertengahan 2025, tekanan ekonomi global kini kembali memaksa langkah serupa diambil.
Risiko Jangka Pendek Meningkat
Strategis Investasi Senior U.S. Bank Wealth Management, Rob Haworth, menilai bahwa kondisi ini membuka risiko jangka pendek di pasar emas global.
Menurutnya, bank sentral kemungkinan besar akan fokus pada stabilitas ekonomi domestik dibanding menambah cadangan emas.
“Dalam kondisi seperti ini, bank sentral cenderung tidak membeli emas, melainkan menggunakannya untuk kebutuhan likuiditas dan pengendalian inflasi,” ujarnya.
Dampak ke Pasar Global
Langkah monetisasi emas oleh bank sentral berpotensi memperbesar tekanan jual di pasar, sekaligus menahan kenaikan harga emas dalam jangka pendek.
Di sisi lain, kondisi ini mencerminkan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global akibat konflik geopolitik yang terus memanas.
Jika tren ini berlanjut, pasar emas dunia diperkirakan akan semakin volatil, seiring perubahan strategi bank sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi masing-masing negara. [*]












