HeadlineJakartaNews

BBM Shell Kosong di SPBU, Ini Penyebab dan Penjelasan Resminya

Redaksi
×

BBM Shell Kosong di SPBU, Ini Penyebab dan Penjelasan Resminya

Sebarkan artikel ini

Kelangkaan BBM di sejumlah SPBU Shell Indonesia sejak awal 2026 memicu keluhan masyarakat, sementara ketersediaan stok masih menunggu proses izin impor dari pemerintah.

JAKARTA | KLIKGENZ.COM – Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU milik Shell Indonesia dilaporkan masih kosong hingga saat ini. Kondisi ini memicu keresahan di tengah masyarakat, terutama pengguna kendaraan yang mengandalkan SPBU swasta.

Kelangkaan tersebut langsung ramai diperbincangkan di media sosial. Melalui akun Instagram resmi @shell_indonesia, banyak warganet mempertanyakan kapan pasokan BBM akan kembali normal.

Situasi ini pun menjadi sorotan, terutama bagi konsumen yang selama ini memilih BBM non-subsidi dari SPBU swasta sebagai alternatif.

Shell Masih Tunggu Kuota Impor

Menanggapi keluhan masyarakat, pihak Shell Indonesia akhirnya memberikan penjelasan. Mereka menyebut bahwa saat ini masih menunggu proses rekomendasi impor BBM dari pemerintah.

“Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah terkait permohonan rekomendasi impor BBM tahun 2026 sesuai dengan tata laksana yang berlaku,” tulis Shell Indonesia melalui pernyataan resminya.

Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan BBM Shell masih bergantung pada izin impor, sehingga belum ada kepastian kapan stok akan kembali normal.

Baca Juga  Mulai Juli 2026, Pemerintah Terapkan B50, Hemat Rp48 Triliun dan Kurangi BBM Fosil

Kekosongan Terjadi Sejak Awal 2026

Berdasarkan pantauan di lapangan, kekosongan BBM di SPBU Shell bukanlah hal baru. Kondisi ini telah terjadi sejak awal tahun 2026.

Selain Shell, SPBU milik BP juga dilaporkan mengalami keterbatasan stok untuk beberapa jenis BBM dalam beberapa waktu terakhir.

Akibatnya, banyak pengguna kendaraan terpaksa beralih ke SPBU lain untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar.

Pemerintah Dorong Skema Bisnis Mandiri

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, turut memberikan tanggapan terkait kondisi ini.

Menurutnya, badan usaha swasta seharusnya dapat mencari solusi secara mandiri melalui skema kerja sama bisnis.

“Silakan B to B. Negara itu hadir bukan mengurus satu kelompok,” ujar Bahlil.

Ia menegaskan bahwa perusahaan swasta dapat melakukan kolaborasi business to business (B2B) dengan pihak lain untuk menjaga ketersediaan stok BBM.

Baca Juga  ASN WFH Tiap Jumat Mulai April, Mendagri Tito Pantau via GPS HP

Faktor Global Ikut Menekan Pasokan

Selain faktor domestik, pemerintah juga menyoroti pengaruh kondisi global terhadap pasokan energi. Salah satunya adalah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Situasi ini memicu ketidakstabilan pasar energi global, termasuk distribusi dan harga minyak dunia.

Meski demikian, pemerintah memastikan tetap mengendalikan harga BBM dalam negeri agar tidak sepenuhnya mengikuti fluktuasi pasar global.

Belum Ada Kepastian Stok Normal

Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan pasokan BBM Shell akan kembali normal. Proses perizinan impor yang masih berjalan menjadi faktor utama penentu.

Sementara itu, masyarakat diimbau untuk lebih fleksibel dalam memilih SPBU sebagai alternatif pemenuhan kebutuhan bahan bakar.

Kondisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa rantai pasok energi memiliki kompleksitas tinggi dan sangat dipengaruhi oleh faktor regulasi hingga dinamika global. [*GENZ.ID]