MANILA | KLIKGENZ.COM — Pemerintah Filipina resmi menetapkan status darurat energi nasional setelah dampak konflik di Timur Tengah mulai mengguncang sektor vital, terutama pasokan bahan bakar dan transportasi udara.
Presiden Ferdinand Marcos Jr., Selasa (24/3/2026), memperingatkan bahwa krisis ini berpotensi melumpuhkan operasional penerbangan komersial akibat kelangkaan bahan bakar jet.
“Penghentian operasional pesawat karena kekurangan bahan bakar adalah kemungkinan nyata,” ujar Marcos dalam keterangannya kepada Bloomberg.
Situasi diperparah setelah sejumlah negara menolak mengisi bahan bakar untuk pesawat maskapai Filipina. Kondisi ini memaksa maskapai mengisi bahan bakar ekstra untuk penerbangan pulang-pergi, yang berdampak langsung pada efisiensi dan biaya operasional—terutama untuk rute jarak jauh.
Dampaknya mulai terasa. Maskapai berbiaya rendah Cebu Pacific mengumumkan penangguhan sejumlah rute serta pengurangan frekuensi penerbangan untuk periode April hingga Oktober 2026.
Lonjakan harga bahan bakar menjadi pemicu utama. Harga avtur kini meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan rata-rata tahun 2025. Kondisi ini memaksa maskapai menaikkan tarif, dengan tambahan biaya bahan bakar mencapai Level 8 untuk periode pemesanan awal April.
Akibatnya, tarif penerbangan domestik naik hingga 787 peso, sementara penerbangan internasional menembus 6.208,98 peso.
Di sisi lain, pemerintah Filipina mulai mencari solusi darurat untuk menekan krisis pasokan. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, negara tersebut mengimpor minyak mentah dari Rusia.
Kapal tanker Sara Sky saat ini tengah membawa sekitar 100.000 ton atau setara 750.000 barel minyak jenis ESPO Blend dari pelabuhan Kozmino menuju terminal milik Petron di Bataan, Limay.
Langkah ini diambil memanfaatkan celah pengecualian sanksi dari Amerika Serikat, yang hanya berlaku hingga 11 April mendatang.
Sebagai informasi, Petron merupakan kilang minyak terbesar di Filipina yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Philippine National Oil Company dan perusahaan energi global Saudi Aramco.
Krisis ini menegaskan betapa rentannya sektor energi global terhadap konflik geopolitik, sekaligus menjadi peringatan keras bagi negara-negara yang bergantung pada impor bahan bakar. [*]











