Dinkes Padang Pariaman Klarifikasi Kematian Pasien Pascaoperasi di RS Aisyiyah, Ini Penyebabnya

Komplikasi atonia uteri picu perdarahan hebat, tim medis disebut telah bertindak sesuai SOP

PADANG PARIAMAN | KLIKGENZ.COM – Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman akhirnya angkat bicara terkait meninggalnya seorang pasien pascaoperasi di RS Aisyiyah Pariaman. Klarifikasi ini disampaikan untuk meluruskan informasi yang berkembang di tengah masyarakat.

Berdasarkan hasil penjelasan pihak rumah sakit, pasien meninggal dunia akibat komplikasi medis serius berupa atonia uteri, yakni kondisi kegawatdaruratan dalam bidang obstetri yang dapat memicu perdarahan hebat pasca persalinan.

Direktur RS Aisyiyah Pariaman, dr. Tri Wijayanto, MARS, FISQua, menjelaskan bahwa pasien mengalami perdarahan beberapa jam setelah menjalani operasi.

“Atonia uteri adalah kondisi ketika rahim gagal berkontraksi setelah persalinan, sehingga menyebabkan perdarahan hebat yang berpotensi mengancam nyawa,” jelasnya.

Ia menegaskan, tim medis telah melakukan penanganan sesuai standar profesi dan prosedur operasional yang berlaku. Penanganan awal dilakukan dengan pemberian obat uterotonika untuk merangsang kontraksi rahim.

Baca Juga  Pacu Kuda Balah Aie 2026 Ditargetkan Sedot 50 Ribu Penonton

Namun, karena kondisi pasien tidak menunjukkan respons yang optimal, tindakan dilanjutkan dengan prosedur operasi ulang atau relaparotomi sebagai upaya maksimal menghentikan perdarahan.

Melihat kondisi pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, pihak RS Aisyiyah kemudian merujuk pasien ke RSUD Padang Pariaman sesuai prosedur pelayanan kesehatan.

Direktur RSUD Padang Pariaman, dr. Efriyeni, M.Kes, menyampaikan bahwa pasien telah mendapatkan perawatan intensif, termasuk transfusi darah dan pemantauan di ruang ICU.

“Pasien menjalani perawatan intensif selama kurang lebih 22 jam. Namun, meskipun telah dilakukan berbagai upaya maksimal, pasien akhirnya tidak dapat diselamatkan,” ujarnya.

Pihak RS Aisyiyah menegaskan bahwa seluruh tindakan medis yang dilakukan telah sesuai standar profesi dengan prinsip penyelamatan nyawa (life-saving). Kematian pasien disimpulkan akibat komplikasi syok hemoragik berat, kondisi kritis yang dalam situasi tertentu tidak selalu dapat dicegah.

Baca Juga  Sidang Isbat 1 Syawal 1447 H Digelar 19 Maret 2026, Ini Sejarah Penetapan Hari Raya oleh Pemerintah

Sementara itu, Ketua POGI Sumatera Barat, dr. Bobby Indra Utama, Sp.OG Subsp. Urogin Re, turut memastikan bahwa tenaga medis telah bekerja sesuai standar operasional prosedur (SOP).

“Dalam kondisi kegawatdaruratan seperti ini, langkah yang diambil sudah tepat. Dokter telah bekerja sesuai SOP, dan dalam situasi serupa tenaga medis lain juga akan melakukan hal yang sama,” tegasnya.

Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman pun mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak berspekulasi. Masyarakat diminta mempercayakan penanganan medis kepada tenaga kesehatan yang kompeten, serta memahami bahwa kegawatdaruratan obstetri memiliki risiko tinggi yang tidak selalu dapat dihindari. [*]