Lebaran di Bukittinggi: Saat Masjid Jadi Rumah Singgah Pemudik

Hotel penuh, ratusan pemudik memilih bermalam di masjid dan menemukan hangatnya solidaritas

Foto : Dok. @sudutbukittinggi

BUKITTINGGI | KLIKGENZ.COM — Arus mudik Lebaran tahun ini membawa gelombang manusia kembali ke kampung halaman, sekaligus menghidupkan denyut kota-kota wisata. Di Bukittinggi, Sumatera Barat, lonjakan pemudik tak hanya memadati jalanan, tetapi juga menghadirkan cerita lain tentang masjid yang berubah menjadi rumah singgah.

Sejak beberapa hari terakhir, jalur menuju Bukittinggi dipenuhi kendaraan. Kepadatan bahkan tak terelakkan di kawasan Padang Panjang, titik krusial penghubung dari Kota Padang. Arus kendaraan mengular, menandai tingginya antusiasme masyarakat merayakan Idul Fitri di kota berhawa sejuk itu.

Namun, di balik ramainya kunjungan, muncul persoalan klasik: keterbatasan penginapan.

Hotel-hotel, mulai dari kelas berbintang hingga homestay, dilaporkan penuh. Tak sedikit pemudik yang datang tanpa reservasi harus memutar otak mencari tempat beristirahat.

Di sinilah masjid mengambil peran yang lebih dari sekadar tempat ibadah.

Dari Tempat Ibadah Menjadi Ruang Singgah

Sejumlah masjid di Bukittinggi, seperti Masjid Tabligiyah Garegeh, Masjid Muchlisin Manggih, dan Masjid Jami Birugo, menjadi tempat singgah sementara bagi para pemudik.

Di pelataran, selasar, hingga ruang-ruang yang diizinkan, para musafir membentangkan alas seadanya. Sebagian beristirahat bersama keluarga, sebagian lain berbincang dengan sesama pemudik yang baru ditemui.

Ridwan, perantau asal Semarang, menjadi salah satu yang merasakan pengalaman tersebut. Ia datang bersama keluarga untuk merayakan Lebaran di ranah Minang, namun tak kebagian kamar hotel.

Baca Juga  Trekking Gunung Batur Bali, Nikmati Sunrise Spektakuler Bersama Pemandu Profesional Berpengalaman 10 Tahun

“Semua penuh, dari hotel sampai homestay. Alhamdulillah, pengurus masjid mengizinkan kami beristirahat. Ternyata nyaman juga, sekaligus bisa bersilaturahmi dengan keluarga lain dari berbagai daerah,” ujarnya.

Bagi Ridwan dan ratusan pemudik lain, masjid bukan hanya tempat transit, tetapi juga ruang berbagi cerita perjalanan.

Tradisi Lama yang Terus Hidup

Fenomena ini bukan hal baru. Bagi warga setempat, tradisi pemudik menginap di masjid sudah berlangsung sejak lama, terutama saat puncak arus mudik dan balik Lebaran.

Mufti Fahmi, warga Garegeh, menyebut Masjid Tabligiyah Garegeh bahkan telah lama dikenal sebagai tempat singgah pemudik, jauh sebelum renovasi dilakukan.

“Tiap Lebaran memang banyak yang menginap di sini. Sekarang malah sudah terdaftar sebagai masjid ramah pemudik oleh Kementerian Agama,” katanya.

Pengurus masjid pun berupaya memastikan kenyamanan dan ketertiban. Di beberapa lokasi, pemudik diarahkan untuk menempati area terpisah antara laki-laki dan perempuan, serta menjaga adab selama berada di lingkungan masjid.

Antara Keterbatasan dan Kepedulian

Di tengah keterbatasan fasilitas, justru muncul wajah lain dari solidaritas sosial. Masjid tidak hanya dibuka, tetapi di beberapa tempat juga menyediakan air minum hingga konsumsi sederhana bagi para pemudik.

Baca Juga  Longsor dan Banjir Terjang Palembayan Agam, 12 Rumah Terendam, Tiga Warga Luka

Mukhlis, salah seorang warga, menilai langkah pengurus masjid patut diapresiasi karena tetap menjaga ketertiban tanpa menghilangkan rasa kemanusiaan.

Fenomena ini kontras dengan pengalaman di sejumlah daerah lain, di mana akses ke masjid terkadang dibatasi di luar waktu salat.

“Di sini masjid terbuka untuk umum, bahkan membantu pemudik. Itu yang membuat suasananya berbeda,” kata Mursal Alwi.

Cerita serupa datang dari Ian, pemudik yang sempat mengalami penolakan di daerah lain saat hendak singgah di masjid.

“Salut dengan masjid di Bukittinggi. Tidak semua tempat memberikan ruang bagi musafir,” ujarnya.

Lebaran, Jalan Pulang, dan Makna Kebersamaan

Di Bukittinggi, Lebaran tak hanya tentang pulang ke kampung halaman. Ia juga tentang bagaimana ruang-ruang publik seperti masjid menjadi titik temu bagi mereka yang datang dari berbagai penjuru.

Di tengah padatnya lalu lintas dan penuh sesaknya penginapan, terselip kisah tentang keterbukaan, empati, dan tradisi yang tetap hidup.

Bagi para pemudik, mungkin yang mereka temukan bukan sekadar tempat beristirahat, melainkan juga makna lain dari perjalanan pulang: kebersamaan yang tak selalu harus direncanakan. [*]

Sumber : diolah dari medsos @sudutbukittinggi serta dari beberapa komentar netizen