HeadlineInternasionalJakartaNewsPeristiwa

Israel Hancurkan Kompleks Bawah Tanah Hizbullah, 1.100 Ton Bahan Peledak Digunakan

×

Israel Hancurkan Kompleks Bawah Tanah Hizbullah, 1.100 Ton Bahan Peledak Digunakan

Sebarkan artikel ini

Serangan Israel terhadap jaringan bawah tanah Hizbullah di Lebanon Selatan dilaporkan menggunakan lebih dari 1.100 ton bahan peledak.

Foto istimewa

JAKARTA|KLIKGENZ.COM – Israel melancarkan serangan besar terhadap kompleks militer bawah tanah yang disebut milik Hizbullah di bawah bukit strategis Ali al-Taher, Lebanon Selatan. Serangan tersebut dilaporkan menggunakan lebih dari 1.100 ton bahan peledak hingga memicu peristiwa seismik yang diklaim tercatat berkekuatan magnitudo 4,1.

Mengutip laporan Military Watch pada Jumat (11/9/2026), operasi tersebut menggambarkan besarnya infrastruktur bawah tanah yang telah dibangun Hizbullah selama bertahun-tahun.

Serangan itu juga menunjukkan semakin pentingnya peperangan bawah tanah dalam strategi militer Israel di sepanjang perbatasan utara.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pada 10 September 2026 menyatakan telah menyelesaikan penghancuran jaringan bawah tanah sepanjang sekitar dua kilometer yang berada di bawah bukit tersebut.

Menurut IDF, penghancuran dilakukan setelah pasukannya mengklaim telah memperoleh kendali operasional atas wilayah permukaan dan jaringan bawah tanah di lokasi strategis tersebut.

Israel menyebut kompleks itu merupakan bagian dari fasilitas Unit Badr Hizbullah.

“Kompleks ini berisi fasilitas komando, area penyimpanan senjata, serta tempat tinggal yang dimaksudkan untuk memungkinkan para pejuang tetap berada di bawah tanah untuk waktu yang lama,” kata pihak IDF, sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut.

Kompleks Bawah Tanah Disebut Menyimpan Roket dan Drone

Jaringan bawah tanah yang menjadi sasaran serangan dilaporkan memiliki persediaan roket, pesawat tanpa awak atau drone, serta berbagai perangkat bahan peledak.

Baca Juga  Rudal Iran Hantam Beit Shemesh Israel, 8 Tewas dan 27 Luka

Skala ledakan yang disebut sangat besar tersebut juga diklaim menarik perhatian Survei Geologi Amerika Serikat (USGS). Menurut laporan yang dikutip Military Watch, aktivitas seismik akibat ledakan tersebut terdeteksi hingga kedalaman sekitar 10 kilometer.

Namun, rincian mengenai besaran ledakan dan pencatatan aktivitas seismik tersebut perlu dibaca dengan mempertimbangkan sumber laporan dan menunggu verifikasi independen.

Infrastruktur bawah tanah Hizbullah sendiri telah lama menjadi bagian penting dari strategi pertahanan kelompok tersebut di Lebanon Selatan.

Selama lebih dari dua dekade, Hizbullah diketahui membangun jaringan bunker, terowongan, dan fasilitas bawah tanah yang dirancang untuk mendukung operasi militernya serta menghadapi superioritas militer Israel.

Laporan yang dikutip juga menyebut adanya dugaan keterlibatan tenaga ahli Korea Utara dalam pembangunan sejumlah fasilitas bawah tanah Hizbullah. Jaringan tersebut dirancang untuk memungkinkan kelompok tersebut mempertahankan kemampuan tempur meski menghadapi serangan udara maupun operasi darat.

Serangan Israel Picu Kritik

Di tengah klaim keberhasilan operasi militer tersebut, serangan Israel juga menuai kritik terkait dampaknya terhadap lingkungan dan kawasan sekitar.

Para pengkritik menilai penggunaan bahan peledak dalam jumlah besar berpotensi mengubah struktur tanah, memperlebar retakan yang sudah ada, serta menimbulkan kerusakan terhadap bangunan di sekitar lokasi.

Baca Juga  Prabowo Ingatkan Dampak Konflik Timur Tengah, Rakyat Diminta Siap Hadapi Tantangan Global

Serangan berskala besar juga menimbulkan kekhawatiran mengenai dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan masyarakat yang berada di sekitar kawasan operasi militer.

Di sisi lain, Israel menghadapi tantangan besar ketika berhadapan dengan jaringan pertahanan bawah tanah Hizbullah.

Keberadaan benteng dan terowongan bawah tanah membuat operasi pasukan darat menjadi semakin berisiko. Struktur tersebut dapat digunakan untuk menyimpan persenjataan, mengatur pergerakan personel, sekaligus mempertahankan kemampuan operasional ketika wilayah permukaan berada di bawah tekanan.

Situasi itu mendorong Israel untuk mengandalkan kekuatan udara dan persenjataan berdaya ledak tinggi dalam upaya menghancurkan fasilitas bawah tanah tanpa harus mengerahkan pasukan dalam jumlah besar ke area yang dianggap berbahaya.

Penghancuran kompleks Ali al-Taher dengan demikian memperlihatkan bagaimana jaringan bawah tanah menjadi salah satu faktor penting dalam konflik Israel-Hizbullah.

Bagi Israel, penghancuran fasilitas tersebut merupakan bagian dari upaya mengurangi ancaman militer di sepanjang perbatasan utara. Sementara bagi Hizbullah, jaringan bawah tanah selama ini menjadi salah satu elemen utama untuk mempertahankan kemampuan tempur menghadapi kekuatan militer Israel.[*]