News

Lebaran di Tengah Perang: Dari Nakba Palestina hingga Gaza, Saat Idul Fitri Berubah Jadi Hari Duka

Redaksi
×

Lebaran di Tengah Perang: Dari Nakba Palestina hingga Gaza, Saat Idul Fitri Berubah Jadi Hari Duka

Sebarkan artikel ini

Tak semua umat Muslim merayakan kemenangan dengan bahagia, sejarah mencatat Idul Fitri kerap hadir di tengah konflik dan tragedi

■ Foto: Warga Palestina berduka atas kematian para petugas medis yang menjadi sasaran tembakan Israel saat menjalankan misi penyelamatan, setelah jenazah mereka ditemukan, menurut Bulan Sabit Merah, di rumah sakit Nasser di Khan Younis di Jalur Gaza selatan pada 31 Maret 2025. (REUTERS/Hatem Khaled)

LUAR NEGERI | KLIKGENZ.COM – Idul Fitri selalu identik dengan kemenangan, kebahagiaan, dan kehangatan keluarga. Setelah sebulan penuh menahan lapar dan dahaga, umat Islam di seluruh dunia biasanya merayakan Lebaran dengan salat berjamaah, silaturahmi, hingga saling memaafkan.

Namun di berbagai belahan dunia—terutama kawasan Timur Tengah—tak semua umat Muslim bisa merasakan kebahagiaan itu.

Sejarah mencatat, Idul Fitri berkali-kali hadir di tengah perang dan konflik kemanusiaan. Alih-alih menjadi hari kemenangan, Lebaran justru berubah menjadi momen penuh luka, kehilangan, dan duka mendalam.

Berikut beberapa peristiwa ketika Idul Fitri dirayakan di tengah bayang-bayang perang:

1. Perang Arab-Israel 1948: Lebaran Terakhir Sebelum Nakba

Konflik Perang Arab-Israel 1948 menjadi titik balik tragis bagi rakyat Palestina.

Perang yang berlangsung sejak 15 Mei 1948 hingga 20 Juli 1949 itu memicu peristiwa yang dikenal sebagai Nakba atau “bencana”.

Sekitar 700 ribu lebih warga Palestina terusir dari tanah kelahiran mereka. Desa hancur, keluarga tercerai-berai, dan krisis pengungsi besar pun tak terhindarkan.

Menjelang tragedi itu, Idul Fitri 1947 menjadi Lebaran terakhir yang masih dirasakan di tanah sendiri—meski sudah diselimuti kecemasan dan ketidakpastian.

Sejak saat itu, bagi banyak warga Palestina, Lebaran bukan hanya perayaan—tetapi juga pengingat akan kehilangan tanah air.

2. Perang Iran-Irak (1980–1988): Lebaran Tanpa Jeda Tembakan

Perang panjang antara Iran dan Irak selama delapan tahun menjadi salah satu konflik paling mematikan di kawasan tersebut.

Baca Juga  Mabes Polri Nonaktifkan Kapolresta Sleman Imbas Polemik Kasus Hogi Minaya

Bahkan di bulan suci Ramadan dan Idul Fitri, pertempuran tidak berhenti.

Pada 1982, Iran melancarkan ofensif besar yang dikenal sebagai Operasi Ramadan di sekitar Basra. Sementara pada 1988, Irak justru memanfaatkan momentum Lebaran untuk melancarkan serangan besar.

Di kota-kota garis depan, suara azan sering bercampur dengan dentuman bom. Lebaran pun kehilangan maknanya sebagai hari damai.

3. Perang Teluk 1991: Lebaran dalam Bayang Kehilangan

Pasca Perang Teluk 1991, suasana Lebaran masih dipenuhi kecemasan.

Ribuan korban jiwa dan banyaknya orang hilang membuat keluarga tidak bisa merayakan hari raya dengan tenang.

Bahkan di komunitas diaspora Muslim di Amerika Serikat, banyak keluarga menghabiskan Lebaran dengan harap-harap cemas menunggu kabar dari kerabat mereka di kawasan konflik.

4. Irak Pasca Invasi 2003: Lebaran di Tengah Teror

Setelah invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003, kekerasan sektarian terus berlangsung selama bertahun-tahun.

Ledakan bom, serangan bersenjata, hingga konflik antar kelompok membuat suasana Lebaran jauh dari rasa aman.

Banyak warga memilih tidak keluar rumah saat Idul Fitri. Masjid yang biasanya penuh saat salat Id justru sepi, dan silaturahmi dilakukan dengan rasa takut.

5. Gaza: Lebaran yang Berulang Kali Jadi Hari Berkabung

Wilayah Gaza menjadi salah satu simbol paling nyata dari Lebaran dalam duka.

Baca Juga  Prabowo dan Sekjen Liga Muslim Dunia Sepakat Perkuat Peran Indonesia di Dunia Islam

Saat konflik 2014, banyak keluarga menghabiskan hari pertama Lebaran dengan menggali kuburan korban serangan.

Situasi serupa kembali terjadi dalam konflik 2023–2024, ketika warga melaksanakan salat Id di antara reruntuhan masjid, bahkan sebagian langsung menuju makam keluarga mereka setelah salat.

Bagi mereka, Lebaran bukan tentang baju baru atau hidangan istimewa—melainkan tentang kehilangan yang terus berulang.

6. Konflik Terbaru Timur Tengah: Lebaran di Tengah Ketegangan

Memasuki 2026, ketegangan kembali meningkat di kawasan Timur Tengah, termasuk melibatkan Israel, Iran, dan Amerika Serikat.

Sejak akhir Februari, eskalasi konflik membuat Ramadan hingga menjelang Idul Fitri kembali diliputi kekhawatiran.

Hingga kini, situasi masih belum sepenuhnya mereda, menambah daftar panjang Lebaran yang harus dijalani dalam suasana tidak pasti.

Lebaran: Antara Kemenangan dan Ketabahan

Kisah-kisah ini menjadi pengingat bahwa tidak semua umat Muslim bisa merayakan Idul Fitri dengan kebahagiaan yang sama.

Di saat sebagian orang berkumpul dengan keluarga, ada saudara-saudara lain yang merayakan Lebaran di pengungsian, di bawah suara sirene, bahkan di antara reruntuhan.

Lebaran pun bukan sekadar hari kemenangan, tetapi juga tentang ketabahan, harapan, dan doa agar kedamaian suatu hari benar-benar datang.

sumber: cnbc