JAKARTA|KLIKGENZ.COM – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat jumlah hot spot atau titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara nasional mengalami penurunan signifikan.
Jumlah hot spot yang sebelumnya mencapai 1.988 titik pada 20 September 2026, turun menjadi 948 titik berdasarkan data terbaru hingga 21 September 2026 pukul 23.59 WIB.
Meski terjadi penurunan, Kemenhut mengingatkan seluruh pihak agar tetap meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan kembali meningkat.
Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto, menyampaikan perkembangan hot spot selama periode 15-21 September 2026. Pemantauan dilakukan secara nasional serta pada enam provinsi yang menjadi wilayah prioritas penanganan karhutla.
1.988 Hot Spot Terdeteksi pada 20 September
Berdasarkan pemantauan satelit Terra, Aqua, SNPP, dan NOAA-20 milik NASA, jumlah hot spot tertinggi selama periode tersebut tercatat pada Minggu, 20 September 2026.
Ristianto mengatakan terdapat 1.988 hot spot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence level) secara nasional.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.843 hot spot berada di enam provinsi prioritas, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.
Jumlah tersebut disebut mencakup sekitar 78 persen dari total hot spot nasional pada saat itu.
“Secara nasional, terdapat 1.988 hot spot dengan kepercayaan high confidence level. Dari 1.988 itu, 1.843-nya pada hari Minggu 20 September itu berada di enam provinsi prioritas,” ujar Ristianto, Selasa (22/9/2026).
Hot Spot Tidak Otomatis Berarti Kebakaran
Kemenhut menegaskan data hot spot dari pemantauan satelit tidak dapat langsung diartikan sebagai titik api atau lokasi pasti terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Menurut Ristianto, data tersebut masih membutuhkan proses verifikasi lebih lanjut di lapangan.
“Jadi, kami selalu menyampaikan bahwa data hot spot yang terdeteksi oleh satelit ini tidak berarti langsung menunjukkan titik api atau terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” katanya.
Ia menjelaskan, satelit mendeteksi hot spot antara lain berdasarkan adanya anomali perubahan suhu di permukaan tanah.
Karena kondisi di lapangan dapat berubah, jumlah hot spot juga bersifat dinamis dan dapat mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
Oleh sebab itu, data satelit menjadi salah satu indikator awal yang perlu dikombinasikan dengan proses pemantauan dan verifikasi untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Jumlah Hot Spot Turun Jadi 948
Kondisi hot spot secara nasional menunjukkan perkembangan yang lebih baik berdasarkan data hingga Senin, 21 September 2026 pukul 23.59 WIB.
Ristianto menyebut jumlah hot spot nasional turun menjadi 948 titik, dibandingkan 1.988 titik yang tercatat pada hari sebelumnya.
“Alhamdulillah kondisi hot spot secara nasional perlahan membaik dengan total nasional 948 dari yang semula sebanyak 1.988 hot spot pada 20 September 2026,” ujar Ristianto.
Penurunan tersebut menunjukkan kondisi hot spot secara nasional mengalami perbaikan. Namun, Kemenhut tetap meminta masyarakat dan seluruh pihak terkait tidak mengurangi kewaspadaan.
Kemenhut Minta Waspada Karhutla
Ristianto mengajak semua pihak untuk terus memperhatikan berbagai aktivitas yang berhubungan dengan penggunaan api, terutama di wilayah yang memiliki potensi karhutla.
Kewaspadaan dinilai penting agar penurunan jumlah hot spot tidak kembali diikuti peningkatan titik panas maupun kejadian kebakaran.
Pemantauan melalui satelit juga terus menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mengetahui perkembangan kondisi hot spot secara berkala.
Kemenhut menekankan bahwa pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga pemangku kepentingan di daerah.
Dengan kewaspadaan dan pencegahan sejak dini, potensi kebakaran hutan dan lahan diharapkan dapat ditekan sehingga tidak menimbulkan dampak lebih luas terhadap lingkungan dan masyarakat.[*]












