Breaking NewsHeadlineInternasionalJakartaNasionalNewsPeristiwa

ASEAN akan membahas kabut asap lintas batas menjelang KTT di Manila

×

ASEAN akan membahas kabut asap lintas batas menjelang KTT di Manila

Sebarkan artikel ini
foto istimewa

MANILA | KLIKGENZ.COM – Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) akan membahas penanganan kabut asap lintas batas dalam pertemuan persiapan para menteri luar negeri menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-49 di Manila, Filipina, pada November 2026.

Pembahasan tersebut menyusul kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia yang dalam beberapa pekan terakhir menyebabkan kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah Malaysia dan Singapura. Situasi ini kembali mendorong negara-negara di kawasan untuk memperkuat koordinasi dalam menghadapi dampak kebakaran lintas negara.

Filipina selaku ketua ASEAN mengonfirmasi bahwa persoalan kabut asap masuk dalam agenda pertemuan persiapan para menteri luar negeri ASEAN.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Filipina, Dominic Xavier Imperial, mengatakan pada Selasa (13/10/2026) bahwa isu tersebut akan dibahas dalam pertemuan menjelang KTT ASEAN.

“Persoalan ini masuk dalam agenda,” kata Imperial, merujuk pada pertemuan persiapan tersebut.

Malaysia Usulkan Mekanisme Regional Penanganan Kabut Asap

Malaysia mendesak agar penanganan kabut asap lintas batas dilakukan secara lebih efektif melalui koordinasi regional. Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, menyampaikan bahwa mekanisme ASEAN yang selama ini digunakan untuk menangani bencana alam belum mencakup secara memadai persoalan kabut asap lintas negara.

Menurut Mohamad, diperlukan mekanisme yang lebih terarah agar negara-negara di kawasan dapat bekerja sama menghadapi kebakaran hutan dan lahan beserta dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan, dan aktivitas ekonomi.

Malaysia juga telah menawarkan bantuan kepada Indonesia untuk memadamkan kebakaran. Namun, upaya penanganan di sejumlah wilayah menghadapi berbagai kendala, mulai dari jarak pandang yang buruk, akses menuju lokasi kebakaran yang sulit, hingga kondisi cuaca yang tidak mendukung pelaksanaan penyemaian awan.

Mohamad mengatakan informasi mengenai kendala tersebut diperolehnya melalui komunikasi dengan mitranya dari Indonesia.

Malaysia, lanjutnya, memahami upaya yang sedang dilakukan pemerintah Indonesia dan bersimpati terhadap tantangan di lapangan. Meski demikian, Kuala Lumpur berharap ada langkah tambahan yang lebih efektif untuk mempercepat pemadaman api.

Malaysia berharap Indonesia “dapat melakukan sesuatu yang lebih efektif untuk segera memadamkan api,” kata Mohamad.

Sebelumnya, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyampaikan bahwa Presiden Indonesia Prabowo Subianto telah “sepakat untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan” dalam merespons persoalan kabut asap. Pernyataan itu disampaikan setelah pembicaraan antara kedua pemimpin, meskipun Anwar tidak merinci langkah yang dimaksud.

Baca Juga  Pelatih Singapura Tak Gentar Hadapi Timnas Indonesia di ASEAN Championship 2026

Kabut Asap Ganggu Kesehatan dan Aktivitas Masyarakat

Dampak kabut asap turut dirasakan masyarakat Singapura. Pada Senin (12/10/2026), indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) di negara tersebut dilaporkan mencapai angka 191. Berdasarkan kategori yang digunakan dalam laporan sumber, angka di atas 150 masuk kategori tidak sehat, sedangkan nilai di atas 300 tergolong berbahaya.

Pemerintah Singapura mengambil sejumlah langkah untuk mengurangi beban kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan Singapura mengumumkan subsidi pengobatan bagi sejumlah kondisi yang berkaitan dengan paparan kabut asap, termasuk asma, bronkitis, infeksi saluran pernapasan atas, dan penyakit paru obstruktif kronis.

Bagi warga Singapura yang memenuhi persyaratan, biaya pengobatan dibatasi maksimal 10 dolar Singapura atau sekitar Rp140.000. Sementara itu, warga berusia 67 tahun ke atas membayar maksimal 5 dolar Singapura atau sekitar Rp70.000.

Kongres Serikat Buruh Nasional Singapura juga mengumumkan pembagian masker N95 secara gratis kepada pekerja transportasi umum dan kurir pengiriman yang berisiko terpapar udara tercemar saat bekerja.

Di Malaysia, sekolah kembali dibuka pada Senin di sebagian besar wilayah setelah kualitas udara sedikit membaik. Namun, kegiatan sekolah masih dihentikan di Johor bagian selatan serta sejumlah wilayah di Kuala Lumpur dan Selangor bagian tengah.

Gangguan juga berdampak pada transportasi udara. Maskapai berbiaya rendah Malaysia, Firefly, menghentikan sementara penerbangan pada rute antara Bandara Sultan Abdul Aziz Shah dekat Kuala Lumpur dan Bandara Seletar di Singapura sejak Sabtu.

Pada Senin (12/10/2026), maskapai tersebut memperpanjang pembatalan penerbangan hingga Selasa sebagai langkah pencegahan demi keselamatan penumpang dan operasional penerbangan.

Karhutla Ancam Satwa Liar di Indonesia

Di Indonesia, kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berdampak terhadap kesehatan masyarakat, tetapi juga mengancam habitat satwa liar. Dalam laporan AFP pada Selasa (13/10/2026), disebutkan bahwa puluhan ribu orang mengalami gangguan kesehatan akibat kebakaran, sementara satwa yang hidup di kawasan terdampak turut menghadapi ancaman.

Otoritas konservasi bersama kelompok pelestarian satwa Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyelamatkan 46 orangutan dari kebakaran selama periode Agustus hingga 9 Oktober.

Salah satu orangutan yang diselamatkan bernama Novita. Orangutan betina tersebut ditemukan bertahan di atas pohon dengan luka bakar pada bagian tangan dan kaki.

Baca Juga  Presiden Prabowo Tinjau Teknologi Pertanian Otonom dan Hilirisasi Gambir saat Panen Raya di Karawang

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah, Andi Muhammad Khadafi, mengatakan kebakaran memaksa satwa meninggalkan habitatnya sehingga membutuhkan upaya penyelamatan.

“Ia harus meninggalkan habitatnya, dan kami harus menyelamatkannya, terutama karena kobaran api,” kata Khadafi kepada AFP.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa karhutla tidak hanya menimbulkan persoalan pencemaran udara, tetapi juga berpotensi merusak ekosistem dan memperbesar ancaman terhadap keberlangsungan satwa liar.

El Nino Tingkatkan Kekhawatiran Ketahanan Pangan

Krisis kabut asap di Asia Tenggara juga menjadi bagian dari kekhawatiran lebih luas terhadap dampak fenomena iklim El Nino. Laporan AFP menyebut fenomena tersebut dikaitkan dengan kebakaran hutan di Amazon, potensi gangguan pasokan listrik di Myanmar, serta meningkatnya risiko terhadap ketahanan pangan global.

Di Myanmar, pemerintah memperingatkan kemungkinan pemadaman listrik seiring meningkatnya konsumsi energi selama gelombang panas. Sementara itu, Filipina bersiap menghadapi kenaikan kebutuhan listrik dan kemungkinan penurunan produksi tenaga air akibat kondisi cuaca yang lebih panas dan kering.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, mengatakan kepada AFP bahwa dirinya sangat mengkhawatirkan dampak El Nino, khususnya terhadap ketahanan pangan. IMF, menurut Georgieva, tengah bersiap memberikan dukungan kepada negara-negara yang mengalami kesulitan menghadapi dampak fenomena tersebut.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan El Nino akan terus menguat hingga mencapai puncaknya pada Desember. Fenomena tersebut berpotensi memengaruhi suhu dan pola curah hujan di berbagai belahan dunia.

“Fenomena ini kemungkinan membawa suhu di atas rata-rata ke sebagian besar wilayah dunia dan mengubah pola curah hujan, sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan banjir di berbagai kawasan,” demikian pernyataan WMO dalam laporan bulanannya.

Sementara itu, Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa melaporkan suhu permukaan laut di salah satu wilayah pemantauan utama Samudra Pasifik mencapai rekor 29,70 derajat Celsius pada September. Badan meteorologi Jepang juga menyebut intensitas El Nino kali ini sebagai yang terkuat dalam catatan mereka.

Rangkaian dampak tersebut memperkuat urgensi kerja sama regional dalam menghadapi karhutla dan kabut asap lintas batas. Pembahasan ASEAN pada November mendatang diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat koordinasi, memperjelas mekanisme bantuan, dan mendorong langkah bersama agar dampak kebakaran terhadap masyarakat serta lingkungan dapat ditekan.[*]