Breaking NewsHeadlineJakartaNasionalNews

Pemerintah Bangun Storage Minyak Mentah di Sumatra, Cadangan Nasional Ditargetkan 60 Hari

×

Pemerintah Bangun Storage Minyak Mentah di Sumatra, Cadangan Nasional Ditargetkan 60 Hari

Sebarkan artikel ini

Pemerintah menyiapkan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah di sejumlah wilayah Sumatra dengan target meningkatkan kapasitas cadangan nasional hingga 60 hari. Studi kelayakan telah rampung dan peninjauan lokasi direncanakan mulai akhir 2026.

FOTO ISTIMEWA

JAKARTA |KLIKGENZ.COM – Pemerintah berencana membangun fasilitas penyimpanan (storage) minyak mentah di sejumlah wilayah Sumatra sebagai langkah memperkuat ketahanan energi nasional. Pembangunan infrastruktur tersebut ditargetkan mampu meningkatkan kapasitas cadangan minyak Indonesia hingga mencapai 60 hari.

Rencana strategis ini diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Menurutnya, pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah tersebut telah dilaporkan dan kembali dibahas bersama Presiden Prabowo Subianto.

Bahlil menjelaskan, keberadaan fasilitas crude oil storage di Sumatra nantinya akan menjadi tempat penampungan minyak mentah yang diimpor Indonesia. Dengan demikian, kapasitas penyimpanan nasional dapat meningkat secara bertahap dan memperkuat ketersediaan pasokan energi dalam negeri.

“Kita akan membangun storage di beberapa titik wilayah Sumatra. Jadi ketika kita melakukan impor minyak mentah (crude oil), semuanya bisa tertampung di atas 20 hari, dengan target akhir mencapai 60 hari,” ungkap Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Dia menyebut, pemerintah telah menyelesaikan tahapan studi kelayakan atau feasibility study (FS) untuk proyek tersebut. Tahapan selanjutnya adalah melakukan peninjauan langsung ke sejumlah lokasi potensial guna memastikan kesiapan pembangunan fasilitas penyimpanan.

Peninjauan lapangan direncanakan mulai dilakukan pada akhir 2026. Pemerintah akan mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari keamanan wilayah, potensi gempa bumi, hingga kondisi lingkungan sekitar lokasi pembangunan.

“FS-nya sudah selesai. Di akhir tahun ini kita mulai mengecek lokasinya dari sisi keamanan, baik dari potensi gempa bumi maupun faktor keamanan lokal,” ujar Bahlil.

Baca Juga  Reshuffle Kabinet Merah Putih: Presiden Prabowo Lantik 5 Pejabat Baru di Istana Negara

Target Dekati Standar Cadangan Minyak Internasional

Lebih lanjut, Bahlil mengatakan peningkatan kapasitas penyimpanan minyak mentah merupakan bagian dari upaya Indonesia mendekati standar minimum cadangan minyak internasional.

Dia menyebut standar minimum internasional berada pada kisaran 90 hari atau sekitar tiga bulan. Sementara itu, pemerintah saat ini menargetkan kapasitas cadangan minyak nasional dapat ditingkatkan hingga 60 hari melalui pembangunan fasilitas penyimpanan baru.

“Target kami adalah mendekati standar minimum dunia. Standar minimum internasional itu berada di angka 90 hari atau 3 bulan. Jadi kita berupaya mendekati ke sana, kalau tidak persis sama, minimal mendekati,” imbuhnya.

Peningkatan kapasitas cadangan minyak dinilai penting untuk mengantisipasi berbagai risiko gangguan pasokan energi, termasuk gejolak harga minyak dunia, ketidakpastian geopolitik, serta hambatan distribusi minyak mentah dari negara pemasok.

Dengan kapasitas penyimpanan yang lebih besar, Indonesia diharapkan memiliki ruang lebih luas untuk menjaga ketersediaan bahan baku energi ketika terjadi gangguan pada rantai pasok global.

Fasilitas Storage Dirancang Tahan Bencana

Dalam pembangunan fasilitas penyimpanan tersebut, pemerintah juga memberikan perhatian khusus terhadap faktor keselamatan dan keamanan infrastruktur.

Bahlil menegaskan, lokasi pembangunan akan dipilih secara cermat dengan mempertimbangkan potensi bencana alam. Hal ini dilakukan agar fasilitas penyimpanan minyak mentah dapat beroperasi secara aman dan berkelanjutan.

“Salah satu hal krusial adalah kami merancang penempatan storage agar terhindar dari daerah yang memiliki potensi bencana besar. Ini sangat menyangkut faktor keselamatan operasional,” jelasnya.

Baca Juga  Prabowo Undang SBY, Jokowi hingga JK ke Istana

Pertimbangan tersebut menjadi penting mengingat Indonesia memiliki sejumlah wilayah dengan tingkat kerawanan bencana alam, termasuk gempa bumi. Karena itu, pemilihan lokasi akan menjadi salah satu tahapan penting sebelum proyek memasuki proses pembangunan fisik.

Pemerintah Gandeng Investor Swasta

Sebelumnya, pemerintah juga mengungkapkan telah memperoleh investor yang siap terlibat dalam pembangunan infrastruktur penyimpanan minyak mentah di Indonesia.

Bahlil menyampaikan bahwa pendanaan proyek tersebut akan melibatkan konsorsium investor dari dalam dan luar negeri. Investor asing yang terlibat disebut berasal dari luar Amerika Serikat (AS).

Dia menegaskan, pembangunan fasilitas crude oil storage tersebut akan dilakukan oleh pihak swasta dengan skema pendanaan campuran antara modal domestik dan asing.

“Investasinya sudah ada, investornya sudah siap. Pendanaannya campuran dari dalam dan luar negeri, tetapi bukan dari AS. Yang membangun fasilitas storage ini adalah pihak swasta,” kata Bahlil.

Keterlibatan investor swasta diharapkan dapat mempercepat pembangunan infrastruktur penyimpanan tanpa sepenuhnya bergantung pada pembiayaan pemerintah.

Pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah di Sumatra ini menjadi bagian dari agenda prioritas pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional.

Selama ini, keterbatasan kapasitas penyimpanan menjadi salah satu tantangan Indonesia dalam menjaga cadangan minyak. Melalui pembangunan fasilitas baru, pemerintah berharap kemampuan penampungan minyak mentah meningkat secara signifikan.

Jika target 60 hari dapat direalisasikan, Indonesia diharapkan memiliki ketahanan pasokan minyak yang lebih kuat dalam menghadapi dinamika pasar energi global sekaligus mengurangi risiko gangguan pasokan dalam negeri.[*]