Breaking NewsEkonomiHeadlineNewsSawahluntoSumbar

Mak Itam, Lokomotif Uap Legendaris Sawahlunto yang Jadi Saksi Sejarah Tambang Ombilin

×

Mak Itam, Lokomotif Uap Legendaris Sawahlunto yang Jadi Saksi Sejarah Tambang Ombilin

Sebarkan artikel ini

Lokomotif uap Mak Itam menjadi saksi sejarah pengangkutan batu bara Ombilin, Sawahlunto. Dibuat di Jerman dan memiliki tenaga 750 tenaga kuda, lokomotif legendaris ini kini menjadi bagian penting dari warisan sejarah perkeretaapian Sumatera Barat.

FOTO ISTIMEWA

SAWAH LUNTO|KLIKGENZ.COM – Sumatera Barat memiliki salah satu peninggalan sejarah perkeretaapian yang menyimpan kisah panjang perkembangan teknologi transportasi di Indonesia. Lokomotif uap legendaris bernama Mak Itam menjadi saksi bagaimana para insinyur pada masa lalu menaklukkan medan pegunungan yang terjal demi mengangkut batu bara dari kawasan Ombilin, Sawahlunto, menuju pelabuhan.

Mak Itam bukan sekadar lokomotif tua. Kereta uap ini merupakan bagian penting dari sejarah industri pertambangan dan transportasi di Sumatera Barat. Keberadaannya memperlihatkan bagaimana teknologi perkeretaapian dirancang untuk menghadapi kondisi geografis yang sulit, khususnya jalur menanjak dengan sistem rel bergerigi.

Mak Itam merupakan lokomotif uap seri E1060 yang memiliki tenaga sebesar 750 tenaga kuda. Lokomotif buatan pabrik Esslingen, Jerman, tersebut didatangkan ke Indonesia pada 1966.

Keistimewaan lokomotif ini terletak pada mekanisme roda gigi khusus yang memungkinkannya melintasi jalur rel bergerigi di kawasan pegunungan. Teknologi tersebut membuat Mak Itam mampu melewati tanjakan yang sulit dilalui lokomotif konvensional.

Menariknya, sistem roda gigi yang digunakan Mak Itam tidak sesuai dengan konfigurasi rel bergerigi di jalur menuju Bedono, Jawa Tengah. Karena itu, ketika sempat dimanfaatkan sebagai kereta wisata di wilayah tersebut, lokomotif ini tidak melintasi jalur tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa teknologi perkeretaapian pada masa lalu dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik medan dan kebutuhan operasional masing-masing jalur.

Sejarah Panjang Kereta Api Tambang Ombilin

Sejarah perkeretaapian di Sawahlunto tidak bisa dilepaskan dari penemuan cadangan batu bara di kawasan Ombilin oleh ahli geologi Belanda, Willem Hendrik de Greve, sekitar 1868.

Penemuan tersebut menjadi awal berkembangnya industri pertambangan batu bara di wilayah Sumatera Barat. Namun, lokasi tambang yang berada di kawasan perbukitan menghadirkan tantangan besar dalam proses pengangkutan hasil tambang.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah kolonial Belanda membangun sistem industri terpadu yang menghubungkan kawasan pertambangan dengan fasilitas penyimpanan, permukiman pekerja, pelabuhan, serta jaringan perkeretaapian.

Baca Juga  Job Fair Kebumen 2025 Sediakan 7.000 Lowongan Kerja, Buka Peluang hingga ke Luar Negeri

Jalur kereta api pegunungan sepanjang sekitar 155 kilometer kemudian dibangun untuk mengangkut batu bara dari Sawahlunto menuju kawasan pelabuhan.

Pembangunan infrastruktur tersebut menjadi salah satu pencapaian penting teknologi transportasi pada masanya karena harus melewati kawasan berbukit dengan kondisi geografis yang menantang.

Keberadaan jalur kereta api dan fasilitas pertambangan Ombilin bahkan memperoleh pengakuan internasional.

Pada 6 Juli 2019, UNESCO secara resmi menetapkan Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto sebagai Situs Warisan Dunia.

Penetapan tersebut mencakup keseluruhan sistem industri pertambangan, mulai dari kawasan tambang, fasilitas pengolahan, jaringan transportasi kereta api, hingga infrastruktur pendukung lainnya. Dengan demikian, nilai sejarahnya tidak hanya terletak pada lokomotif Mak Itam, tetapi juga pada keseluruhan ekosistem industri yang pernah berkembang di kawasan tersebut.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan kisah Mak Itam memperlihatkan bagaimana teknologi perkeretaapian berkembang untuk menjawab kebutuhan dan tantangan pada zamannya.

“Di balik sebuah lokomotif, terdapat pengetahuan teknik dan keputusan desain yang lahir dari kondisi nyata. Sejarah tersebut juga menunjukkan hubungan antara transportasi, kegiatan industri, dan perkembangan suatu wilayah,” kata Anne dikutip dari laman resmi KAI, Minggu (1/11/2026).

Perjalanan Lokomotif Uap hingga Menjadi Ikon Wisata

Penggunaan lokomotif uap di Sumatera Barat berlangsung selama beberapa generasi. Lokomotif seri E10 didatangkan secara bertahap untuk mendukung operasional pengangkutan batu bara dari kawasan Ombilin.

Sebanyak 22 unit didatangkan pada periode 1921–1928. Selanjutnya, 20 unit kembali didatangkan pada 1964–1966, disusul tujuh unit terakhir pada 1967.

Memasuki awal 1980-an, penggunaan lokomotif uap mulai berkurang seiring berkembangnya teknologi perkeretaapian berbasis mesin diesel yang dinilai lebih sesuai untuk kebutuhan operasional modern.

Perubahan teknologi tersebut turut mengakhiri masa kejayaan lokomotif uap di jalur pertambangan Ombilin.

Mak Itam kemudian mengalami perubahan fungsi dari sarana angkutan batu bara menjadi bagian dari wisata sejarah perkeretaapian.

Pada 1998, lokomotif tersebut dipindahkan ke Museum Kereta Api Ambarawa, Jawa Tengah, dalam kondisi rusak. Setelah melalui proses pemulihan, Mak Itam sempat dioperasikan untuk melayani perjalanan wisata kereta api di kawasan tersebut.

Baca Juga  BREAKING: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL di Bekasi Timur, Evakuasi Penumpang Masih Berlangsung

Namun, perjalanan sejarahnya kembali berlanjut di kampung halamannya. Pada Desember 2008, Mak Itam dipulangkan ke Sawahlunto untuk menjadi salah satu ikon wisata sejarah kota tambang tersebut.

Upaya Melestarikan Mak Itam sebagai Warisan Sejarah

Upaya menjaga keberadaan Mak Itam hingga saat ini bukan sekadar merawat lokomotif tua, melainkan juga mempertahankan bukti perkembangan teknologi perkeretaapian di Indonesia.

Lokomotif tersebut telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya melalui Keputusan Wali Kota Sawahlunto Nomor 188.45/327/WAKO-SWL/2017.

Berdasarkan data KAI, Mak Itam saat ini tersimpan di Depo Sawahlunto dan masih dapat bergerak di area emplasemen Sawahlunto Rail and Train Museum.

Meski demikian, kondisi teknis lokomotif membutuhkan perhatian khusus. Beberapa pipa api pada bagian ketel uap dilaporkan mengalami kebocoran sehingga diperlukan penanganan teknis agar fungsinya dapat dipulihkan secara optimal.

Anne Purba menjelaskan, pelestarian sarana perkeretaapian bersejarah membutuhkan ketelitian teknis sekaligus penyampaian informasi sejarah yang mudah dipahami masyarakat.

Menurutnya, nilai sebuah sarana bersejarah tidak hanya ditentukan oleh usia, tetapi juga pengetahuan mengenai cara kerja, tantangan teknologi pada masanya, serta perubahan yang dialami sepanjang perjalanan sejarah.

Karena itu, dokumentasi yang akurat, perawatan yang tepat, dan pemanfaatan dengan memperhatikan aspek keselamatan menjadi bagian penting dalam menjaga warisan perkeretaapian.

Keberadaan Mak Itam dan jaringan rel Ombilin menjadi bukti bahwa pembangunan transportasi memiliki peran besar dalam membentuk perkembangan sosial dan ekonomi suatu wilayah.

Dari kawasan pertambangan hingga memperoleh pengakuan UNESCO, sejarah Mak Itam memperlihatkan kemampuan teknologi masa lalu dalam mengatasi tantangan geografis.

Kini, lokomotif legendaris tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan transportasi bukan hanya tentang menghadirkan teknologi terbaru, tetapi juga menghargai, menjaga, dan mewariskan pengetahuan sejarah kepada generasi mendatang.[*]