JAKARTA|KLIKGENZ.COM – Kabar duka menyelimuti dunia kuliner Indonesia. Pengusaha kuliner legendaris sekaligus pendiri jaringan rumah makan Ayam Goreng Suharti, Hj Suharti, meninggal dunia pada Jumat (30/10/2026) dalam usia 86 tahun.
Kepergian Hj Suharti menjadi kehilangan bagi industri kuliner Tanah Air. Namanya telah dikenal luas melalui sajian ayam goreng khas Kalasan dengan taburan kremes yang gurih dan renyah. Hidangan tersebut menjadi identitas kuliner yang melekat pada perjalanan bisnisnya selama puluhan tahun.
Di balik kesuksesan bisnis tersebut, Hj Suharti memiliki perjalanan panjang yang dimulai dari usaha sederhana. Ia merintis bisnis ayam goreng dengan berjualan secara keliling, jauh sebelum namanya dikenal sebagai salah satu pengusaha kuliner legendaris di Indonesia.
Mengutip berbagai sumber, perjalanan Hj Suharti dalam membangun usaha ayam goreng dimulai pada 1956. Saat itu, ia berjualan bersama sang ayah dengan menggunakan sepeda tua untuk membawa bakul besar berisi ayam goreng hasil olahannya.
Dengan peralatan sederhana, dagangan tersebut ditawarkan dari satu tempat ke tempat lain, mulai dari Yogyakarta hingga Surakarta.
Perjalanan berjualan secara berkeliling itu menjadi awal perjuangan Hj Suharti dalam memperkenalkan cita rasa ayam goreng buatannya kepada masyarakat.
Ketekunan dan keterampilannya dalam mengolah makanan menjadi modal penting untuk mengembangkan usaha yang awalnya berskala kecil tersebut.
Hj Suharti juga memiliki hubungan keluarga dengan salah satu tokoh penting dalam sejarah kuliner Indonesia. Ia merupakan cucu Mbok Berek, sosok yang dikenal sebagai pelopor ayam goreng Kalasan.
Latar belakang keluarga tersebut turut menjadi bagian dari perjalanan Hj Suharti dalam mengembangkan sajian ayam goreng dengan karakteristik rasa dan kremes yang khas.
Membesarkan Bisnis Ayam Goreng hingga Dikenal Luas
Memasuki awal 1970-an, Hj Suharti bersama mantan suaminya mulai mengembangkan usaha rumah makan ayam goreng.
Bisnis yang sebelumnya dirintis secara sederhana perlahan berkembang menjadi usaha kuliner yang dikenal masyarakat. Sajian ayam goreng dengan kremes gurih menjadi daya tarik utama sekaligus pembeda dari produk ayam goreng lainnya.
Seiring berjalannya waktu, nama Suharti semakin melekat dengan bisnis rumah makan tersebut. Identitas merek itu kemudian dikenal oleh pelanggan dari berbagai daerah.
Namun, perjalanan Hj Suharti dalam membangun bisnis tidak selalu berjalan mulus. Pada 1991, persoalan rumah tangga yang berujung perceraian dan sengketa keluarga membuat dirinya kehilangan kendali atas merek dagang yang sebelumnya digunakan.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik balik dalam perjalanan bisnisnya.
Alih-alih menghentikan usaha, Hj Suharti memilih kembali membangun bisnis dengan menggunakan namanya sendiri melalui merek Ayam Goreng Suharti.
Keputusan tersebut menjadi langkah penting untuk mempertahankan identitas usaha yang telah dirintis dan dibesarkannya selama bertahun-tahun.
Melalui merek tersebut, Hj Suharti kembali memperkenalkan ayam goreng khas buatannya kepada masyarakat. Nama pribadinya pun menjadi bagian penting dari identitas bisnis kuliner yang dibangunnya.
Hj Suharti Tinggalkan Jejak dalam Kuliner Nusantara
Perjalanan hidup Hj Suharti menjadi gambaran perjuangan seorang pengusaha perempuan yang membangun bisnis dari bawah.
Berawal dari berjualan menggunakan sepeda tua, ia berhasil mengembangkan usaha kuliner yang dikenal lintas generasi.
Ayam goreng dengan taburan kremes yang menjadi ciri khas rumah makannya turut memperkaya keberagaman kuliner Indonesia, khususnya sajian ayam goreng tradisional khas Kalasan.
Bagi dunia kuliner Tanah Air, Hj Suharti bukan sekadar nama di balik sebuah rumah makan. Ia merupakan sosok yang memiliki perjalanan panjang dalam memperkenalkan dan mengembangkan bisnis ayam goreng dengan identitas tersendiri.
Kepergiannya pada usia 86 tahun menandai berakhirnya perjalanan hidup seorang perintis usaha kuliner yang telah membangun bisnis melalui kerja keras, ketekunan, dan keberanian memulai dari hal sederhana.
Warisan usaha dan identitas kuliner yang dibangunnya akan tetap menjadi bagian dari perjalanan sejarah kuliner Indonesia.[*]










