JAKARTA|KLIKGENZ.COM — Generasi Z (Gen Z) semakin banyak yang mulai merintis bisnis dan membangun karier secara mandiri. Namun, di tengah semangat tersebut, sebagian besar dari mereka ternyata masih merasa ragu untuk meminta bantuan kepada orang lain.
Riset LinkedIn menunjukkan, sebanyak 73 persen Gen Z mengaku takut meminta bantuan. Kekhawatiran tersebut antara lain muncul karena mereka takut merepotkan orang lain, terdengar tidak tulus, hingga mendapatkan kritik.
Wakil Presiden LinkedIn sekaligus pakar karier, Catherine Fisher, mengatakan Gen Z sebenarnya memahami pentingnya membangun relasi. Namun, tidak semua dari mereka mengetahui bagaimana cara memulai dan memelihara hubungan profesional tersebut.
“Gen Z tahu relasi itu penting, namun banyak yang masih mencoba mengetahui cara membangunnya,” ujar Fisher, seperti dikutip dari Yahoo! Finance, Minggu (19/9/2026).
Menurut Fisher, rasa khawatir terhadap respons orang lain menjadi salah satu faktor yang membuat Gen Z enggan memulai komunikasi.
“Jika kamu khawatir untuk mengganggu seseorang, terdengar canggung, atau diabaikan, dapat dipahami mengapa memulai percakapan terasa mengintimidasi,” katanya.
Kurang Percaya Diri Bisa Berdampak pada Karier
Keraguan untuk membangun relasi ternyata tidak hanya berdampak pada kehidupan sosial. Dalam dunia kerja, kurangnya keberanian untuk memanfaatkan koneksi juga dapat memengaruhi peluang mendapatkan pekerjaan.
Riset LinkedIn menunjukkan hanya sekitar 11 persen lamaran kerja dari Gen Z yang mencantumkan koneksi pribadi.
Padahal, menurut riset tersebut, lamaran yang memanfaatkan koneksi pribadi memiliki kemungkinan diterima hampir tujuh kali lebih besar dibandingkan lamaran tanpa koneksi.
Data tersebut menunjukkan bahwa membangun jaringan profesional dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan karier, terutama bagi mereka yang baru memasuki dunia kerja atau sedang mengembangkan bisnis.
Memulai Relasi Tak Harus Langsung Meminta Bantuan
Pengalaman seorang Gen Z bernama Tracy Mendoza menjadi salah satu contoh bagaimana relasi profesional dapat membuka peluang baru.
Mendoza mengaku sempat merasa ragu untuk menghubungi koneksinya. Namun, pandangannya berubah setelah ia terhubung dengan seseorang di LinkedIn yang memiliki unggahan menarik perhatiannya.
Dari koneksi tersebut, ia kemudian mendapatkan peluang pekerjaan.
“Tadinya saya ragu untuk meminta bantuan kepada koneksi saya,” ujar Mendoza.
Ia menyadari bahwa keputusan untuk menghubungi orang tersebut justru memberikan peluang yang sebelumnya tidak ia bayangkan.
“Saya yakin saya tidak akan berada di posisi ini jika tidak mencoba menghubungi,” tambahnya.
Bangun Koneksi Secara Konsisten
Bagi Mendoza, pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa membangun relasi sebaiknya tidak dilakukan hanya ketika sedang membutuhkan pekerjaan.
Ia kemudian memilih untuk membangun koneksi secara lebih santai dan konsisten.
“Itu membuat saya percaya akan menjalin koneksi secara santai dan konsisten, bukan hanya saat butuh pekerjaan,” tuturnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan pentingnya membangun jaringan sebelum seseorang benar-benar membutuhkan bantuan.
Menariknya, kekhawatiran Gen Z untuk menghubungi orang lain ternyata tidak selalu beralasan. Berdasarkan riset yang sama, sebanyak 83 persen generasi Millennial, Gen X, dan Baby Boomer menyatakan bersedia memberikan saran kepada orang yang tidak mereka kenal.
Sementara itu, Gen Z juga menunjukkan angka yang sama, yakni 83 persen.
Jangan Anggap Networking sebagai Meminta Tolong
Catherine Fisher menyarankan agar Gen Z tidak selalu melihat upaya membangun koneksi sebagai tindakan meminta bantuan.
Menurutnya, komunikasi dapat dimulai dari percakapan sederhana tanpa harus langsung meminta sesuatu.
“Bentuknya bisa sesederhana mengomentari karya seseorang, menanyakan pertanyaan bermutu, atau menghubungi karena memiliki kesamaan,” kata Fisher.
Dengan pendekatan tersebut, membangun networking dapat terasa lebih alami. Relasi juga dapat berkembang secara bertahap tanpa membuat salah satu pihak merasa terbebani.
Bagi Gen Z yang sedang merintis bisnis maupun membangun karier, keberanian untuk memulai percakapan dapat menjadi langkah awal dalam memperluas jaringan profesional.
Yang terpenting, membangun relasi tidak harus selalu dimulai ketika sedang membutuhkan pekerjaan atau bantuan. Konsistensi dalam berkomunikasi dan memberikan nilai kepada orang lain dapat menjadi bagian dari proses membangun jaringan dalam jangka panjang.[*]











