NewsTren

Cerita Pemudik 2026: Rindu Orang Tua hingga Tiket Mahal, Alasan Warga Mudik Lebih Awal

Redaksi
×

Cerita Pemudik 2026: Rindu Orang Tua hingga Tiket Mahal, Alasan Warga Mudik Lebih Awal

Sebarkan artikel ini

Kisah haru dan realita biaya tinggi warnai arus mudik Lebaran 2026 dari Jakarta ke berbagai daerah

JAKARTA | KLIKGENZ.COM – Fenomena mudik Lebaran 2026 kembali memperlihatkan wajah emosional sekaligus realitas ekonomi masyarakat Indonesia. Kerinduan pada keluarga dan suasana kampung halaman menjadi alasan utama para perantau memilih pulang lebih awal, meski harus menghadapi lonjakan biaya transportasi.

Aroma masakan orang tua, terutama hidangan khas daerah, masih menjadi magnet kuat yang tak tergantikan. Bagi banyak perantau, momen Lebaran bukan sekadar libur tahunan, tetapi ruang untuk kembali ke akar—berkumpul dengan keluarga dan melepas rindu yang tertahan.

Suyanti, perantau asal Mesuji, Lampung, menjadi salah satu potret pemudik tahun ini. Setelah dua tahun tak merayakan Lebaran di kampung halaman, ia akhirnya memutuskan pulang bersama suami dan ketiga anaknya dari Terminal Kalideres, Jakarta Barat.

“Yang jelas ya kedua orang tua pasti rindu. Mudiknya sama keluarga, pulang semua lima orang,” ujarnya, Senin (16/3/2026).

Kerinduan Suyanti tak hanya pada keluarga, tetapi juga pada cita rasa masakan rumah yang sulit ditemukan di perantauan. Ia mengaku sangat menantikan opor ayam kampung buatan sang ibu.

Baca Juga  Kapolda Sumbar Pimpin Apel Operasi Ketupat 2026 di Padang, 161 Ribu Personel Amankan Mudik

“Kalau saya rindu makanan khas Lampung, terutama opor ayam kampung dari orang tua,” katanya.

Namun, kerinduan itu harus dibayar mahal. Untuk perjalanan pulang pergi bersama keluarga, Suyanti menyiapkan dana hingga Rp10 juta. Lonjakan harga tiket menjadi tantangan tersendiri bagi pemudik tahun ini.

Ia menyebut harga tiket bus eksekutif kini mencapai Rp530.000 per orang, naik signifikan dibanding hari biasa yang berkisar Rp300.000 hingga Rp400.000.

“Sekarang sudah Rp530.000 per orang, padahal biasanya sekitar Rp400.000,” ungkapnya.

Cerita serupa datang dari Dwi Ratnawati, pemudik asal Malang, Jawa Timur. Berbeda dengan Suyanti, Dwi mengaku rutin pulang kampung setiap beberapa bulan sekali. Namun, momentum Lebaran tetap menjadi yang paling dinanti.

Ia memilih berangkat dari Terminal Kalideres karena lokasi yang dekat dengan tempat kerjanya di Jakarta, sekaligus memudahkan akses perjalanan ke kampung halaman.

“Dari tempat kerja saya ini paling dekat, dan ke Malang juga aksesnya enak,” ujarnya.

Baca Juga  BPJN Sumbar Ingatkan Pemudik Waspada Melintasi Jalan Malalak Saat Lebaran 2026

Bagi Dwi, dorongan terbesar untuk mudik adalah kerinduan pada anak dan suami. Ia bahkan telah menyiapkan berbagai oleh-oleh untuk dibagikan kepada keluarga di Ampelgading.

“Yang paling rindu ya anak dan suami. Pengen kumpul sama keluarga saja,” katanya.

Mengantisipasi lonjakan penumpang, Dwi sudah membeli tiket sejak awal Februari melalui agen langganan. Ia memanfaatkan komunikasi via WhatsApp untuk memastikan ketersediaan kursi.

“Sudah beli dari jauh hari, tinggal hubungi agen lewat WA saja,” jelasnya.

Dwi berencana menghabiskan waktu sekitar 12 hari di kampung halaman hingga akhir Maret. Ia tetap memilih menggunakan armada bus langganannya karena merasa nyaman dengan pelayanan yang diberikan.

Fenomena ini mencerminkan bahwa mudik Lebaran bukan hanya tradisi, tetapi juga perjalanan emosional yang sarat makna. Di tengah kenaikan biaya transportasi, kerinduan terhadap keluarga dan kampung halaman tetap menjadi alasan utama yang tak tergantikan. [*rri]