Breaking NewsHeadlineNewsPadangPeristiwaSumbar

Kasus ISPA di Sumbar Tembus 601 Ribu, Warga Waspadai Kabut Asap

×

Kasus ISPA di Sumbar Tembus 601 Ribu, Warga Waspadai Kabut Asap

Sebarkan artikel ini

Dinkes Sumbar mencatat 601.396 kasus ISPA hingga Oktober 2026. Warga diminta menggunakan masker dan membatasi aktivitas luar ruangan akibat kabut asap karhutla.

foto istimewa

PADANG|KLIKGENZ.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumatera Barat mencatat sebanyak 601.396 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama Januari hingga Oktober 2026. Tingginya angka tersebut menjadi perhatian di tengah memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah di Sumbar.

Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan pernapasan, terutama ketika kualitas udara berada dalam kondisi tidak sehat. Paparan partikel asap berpotensi memperburuk keluhan pernapasan dan meningkatkan risiko komplikasi pada orang yang mengalami infeksi saluran pernapasan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sumbar, dr. Riena Sovianty, mengatakan kasus ISPA mengalami fluktuasi sejak awal tahun. Menurutnya, pemantauan terus dilakukan dan tidak hanya difokuskan pada periode munculnya kabut asap.

“Kita tidak hanya memantau ISPA saat kabut asap, tetapi sejak awal tahun. Ada naik turun angka ISPA dan hingga Oktober ini kita mencatat setidaknya 601.396 kasus di Sumbar,” kata Riena, Rabu (21/10/2026).

Kasus ISPA di Sumbar Berfluktuasi Sepanjang 2026

Berdasarkan data Dinkes Sumbar, jumlah kasus ISPA mengalami perubahan setiap bulan. Pada Januari 2026, tercatat sebanyak 69.503 kasus, kemudian turun menjadi 61.559 kasus pada Februari dan 53.790 kasus pada Maret.

Pada April, jumlah kasus kembali meningkat menjadi 65.976 kasus, sebelum turun menjadi 52.750 kasus pada Mei. Selanjutnya, Dinkes Sumbar mencatat 59.470 kasus pada Juni dan 60.164 kasus pada Juli.

Angka kasus kembali meningkat pada Agustus dengan 68.349 kasus, kemudian tercatat sebanyak 66.284 kasus pada September. Sementara itu, selama periode 1–20 Oktober 2026, jumlah kasus ISPA mencapai 43.551 kasus.

Data tersebut menunjukkan bahwa kasus ISPA masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian, terutama ketika kabut asap berpotensi memperburuk kualitas udara di sejumlah daerah.

Baca Juga  Kualitas Udara Sumbar Menurun, Kota Padang Masuk Level Berbahaya

Kelompok Dewasa Paling Banyak Mengalami ISPA

Berdasarkan data Januari hingga September 2026, kelompok dewasa menjadi kelompok dengan jumlah penderita ISPA terbanyak di Sumatera Barat.

Dinkes Sumbar mencatat sebanyak 216.065 penderita ISPA berasal dari kelompok dewasa atau sekitar 39,64 persen. Posisi berikutnya ditempati kelompok lansia dengan 101.920 penderita atau 18,65 persen.

Sementara itu, kelompok balita tercatat sebanyak 94.516 kasus atau 17,30 persen. Kelompok anak-anak mencapai 67.223 kasus atau 12,21 persen, sedangkan kelompok remaja tercatat sebanyak 66.709 kasus atau 12,30 persen.

Data tersebut memperlihatkan bahwa ISPA tidak hanya mengancam kelompok rentan, seperti balita dan lansia, tetapi juga banyak dialami oleh masyarakat usia dewasa.

Riena menyebutkan, Kota Padang menjadi wilayah dengan jumlah penderita ISPA terbanyak di Sumatera Barat. Untuk mengantisipasi dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat, Dinkes Sumbar telah menerbitkan surat edaran mengenai mitigasi dan pencegahan ISPA.

ISPA Akibat Kabut Asap Perlu Diwaspadai

Riena menjelaskan, ISPA dapat disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri. Namun, dalam situasi kebakaran hutan dan lahan, paparan partikel dari kabut asap dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan masyarakat.

Salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai adalah pneumonia, yakni peradangan pada paru-paru yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan serius.

Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala yang muncul, terutama apabila keluhan semakin berat atau tidak kunjung membaik.

“Gejala yang perlu diwaspadai antara lain demam lebih dari tiga hari, sesak napas, atau napas menjadi cepat. Jika mengalami gejala tersebut, masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan,” ujarnya.

Pada anak-anak, orang tua perlu memperhatikan perubahan perilaku, seperti menjadi lebih rewel, mengalami kesulitan makan atau minum, serta batuk yang tidak kunjung berkurang.

Baca Juga  Mahasiswa KKN Universitas Mohammad Natsir Bukittinggi dan Dasawisma Kampuang Surau Ajak Warga Sehat Alami dengan Tanaman Obat Keluarga

Jika menemukan gejala tersebut, orang tua disarankan segera membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat, seperti puskesmas, klinik, atau rumah sakit.

Selain gejala berat, masyarakat juga diminta memperhatikan tanda awal gangguan pernapasan, seperti tenggorokan terasa tidak nyaman, demam ringan, dan mulai mengalami batuk. Kewaspadaan perlu ditingkatkan ketika udara di sekitar tempat tinggal terdampak kabut asap.

Dinkes Sumbar Imbau Warga Gunakan Masker

Untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat kabut asap, Dinkes Sumbar mengimbau masyarakat menggunakan masker selama kualitas udara masih terdampak polusi.

Warga juga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat. Apabila harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan yang perlu diperhatikan.

Masyarakat juga diminta memantau perkembangan kualitas udara melalui informasi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk menentukan apakah aktivitas di luar rumah perlu dibatasi.

Selain itu, menjaga daya tahan tubuh melalui konsumsi makanan bergizi seimbang juga penting dilakukan. Rumah tangga diharapkan menyediakan masker sebagai langkah antisipasi apabila kondisi kabut asap semakin memburuk.

“Selain itu, menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang perlu diperhatikan, apalagi dalam kondisi saat ini yang terdampak asap karhutla. Masyarakat juga diharapkan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Bagi yang memiliki kebutuhan atau harus beraktivitas di luar rumah, gunakan masker. Sebaiknya, di tingkat rumah tangga saat ini menyediakan masker,” tutup Riena.

Dengan meningkatnya kewaspadaan dan penerapan langkah pencegahan, masyarakat diharapkan dapat mengurangi risiko gangguan pernapasan di tengah kondisi udara yang terdampak karhutla. Pemeriksaan medis sejak dini juga penting dilakukan apabila gejala ISPA memburuk, khususnya pada balita, anak-anak, dan lansia.[*]