NewsSelebritiSumbar

Mak Nani, Legenda Film Malaysia Berdarah Sungai Geringging Padang Pariaman

Redaksi
×

Mak Nani, Legenda Film Malaysia Berdarah Sungai Geringging Padang Pariaman

Sebarkan artikel ini

Dari pelayan kedai kopi hingga menjadi aktris, sutradara, penulis skenario dan produser, Rosnani Jamil membawa jejak Minangkabau ke panggung perfilman Malaysia.

BUKITTINGGI | KLIKGENZ.COM — Nama Datin Hajah Rosnani Jamil atau yang akrab disapa Mak Nani mungkin lebih dikenal dalam sejarah perfilman Malaysia. Namun, di balik perjalanan panjangnya sebagai aktris, sutradara, penulis skenario, dan produser, tersimpan cerita tentang akar Minangkabau yang berasal dari Sungai Geringging, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Sosok yang telah lebih dari enam dekade berkecimpung di dunia seni itu kembali mendapat sorotan ketika hadir di Kota Bukittinggi dalam rangkaian Bukittinggi East Film Festival at 100th Jam Gadang.

Kehadiran Mak Nani dalam pemutaran film Raja Malewar menjadi momen istimewa. Bukan hanya karena ia merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah perfilman Melayu, tetapi juga karena perempuan kelahiran 20 Januari 1936 itu memiliki hubungan darah dengan Ranah Minang.

Momen tersebut semakin berkesan karena berlangsung bertepatan dengan perayaan ulang tahunnya yang ke-91 tahun di Bukittinggi.

Perayaan sederhana itu menjadi bagian dari perjalanan panjang Mak Nani yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di dunia perfilman. Dari tanah kelahiran leluhurnya di Sumatera Barat, kiprahnya kemudian berkembang hingga menjadi salah satu nama yang diperhitungkan dalam industri film Malaysia dan Singapura.

Berawal dari Kedai Kopi

Perjalanan Mak Nani di dunia film bermula pada 1952.

Saat itu, Rosnani masih bekerja sebagai pelayan di sebuah kedai kopi sekaligus menjadi penari di Happy World Club. Bakatnya kemudian menarik perhatian sutradara Tan Sri L. Krishnan.

Kesempatan tersebut menjadi pintu masuk Rosnani ke dunia perfilman.

Ia mendapat kesempatan tampil dalam film Lupa Daratan bersama Omar Rojik pada 1952. Dari film tersebut, perjalanan panjangnya sebagai aktris dimulai.

Rosnani kemudian membintangi sejumlah film klasik produksi Shaw Brothers dan Cathay-Keris Film Productions.

Di tengah kesibukannya sebagai aktris, ia juga berusaha mengembangkan kemampuan diri. Rosnani belajar bahasa Inggris bersama sahabatnya, penyanyi veteran Nona Asiah.

Baca Juga  Kualitas Udara Kota Padang Memburuk, ISPU Tembus 440 dan Masuk Level Berbahaya
Datin Hajah Rosnani Jamil atau Mak Nani berfoto bersama Wali Kota Bukittinggi dalam rangkaian Bukittinggi East Film Festival at 100th Jam Gadang. Kehadiran legenda perfilman Malaysia berdarah Sungai Geringging, Kabupaten Padang Pariaman, tersebut menjadi momen istimewa dalam pertemuannya kembali dengan Ranah Minang. [Foto Istmw]

Dari Aktris hingga Sutradara

Perjalanan karier Rosnani tidak berhenti sebagai pemain film.

Setelah Studio Jalan Ampas ditutup, Rosnani bersama keluarganya pindah ke Setapak, Kuala Lumpur, pada 1967. Ia kemudian meneruskan aktivitas seninya melalui Studio Merdeka, Hulu Klang.

Selain berakting, Rosnani juga terlibat dalam pengisian suara untuk sejumlah produksi film dan drama dari Jepang serta Hong Kong.

Keinginan untuk terus belajar membawanya ke London pada 1970. Selama dua tahun, ia memperdalam pengetahuan di bidang pembuatan film.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi modal penting ketika Rosnani mengembangkan kiprahnya di balik layar.

Pada 1985, ia mendirikan perusahaan film RJ Film. Melalui perusahaan tersebut, Rosnani memproduseri sekaligus menyutradarai film Mawar Merah, yang dibintangi Raja Ema dan Mustaffa Noor.

Film tersebut kemudian mendapat pengakuan dalam ajang Festival Film Malaysia, termasuk melalui kategori skenario dan sejumlah kategori teknis maupun akting.

Rosnani juga dikenal sebagai salah satu perempuan yang membuka jalan bagi keterlibatan perempuan sebagai sutradara dalam industri film Malaysia.

Puluhan Film dan Deretan Penghargaan

Sepanjang kariernya, Rosnani Jamil tercatat membintangi sekitar 35 film layar lebar.

Namanya juga beberapa kali masuk dalam daftar nominasi dan penerima penghargaan perfilman Malaysia.

Di antaranya, ia meraih penghargaan Aktris Terbaik melalui Sri Mersing pada 1961 dan Melati pada 1984.

Film Mawar Merah yang disutradarainya juga memperoleh perhatian dalam Festival Film Malaysia. Pada ajang tersebut, Rosnani meraih penghargaan untuk kategori Skenario Terbaik, sementara namanya juga tercatat sebagai nominasi Sutradara Terbaik.

Pada 2010, Rosnani menerima Penghargaan Prestasi Seumur Hidup dalam Berita Harian Penghargaan Bintang Populer.

Sejumlah karya lain yang turut mengantarkan namanya dalam berbagai penghargaan antara lain Batu Permata Kacha, Jalan Ka-Syorga Lainnya, Di antara Dua Hati, Azizah Sang Legenda, Amuk, dan Najiha.

Foto: wikipedia

Menutup Enam Dekade di Dunia Seni

Setelah sekitar enam dekade mengabdikan diri dalam dunia seni, Rosnani akhirnya mengumumkan pensiun.

Baca Juga  Pasar Murah Ramadhan di Aua Malintang Diserbu Warga, 4.300 Voucher Belanja Disalurkan untuk 1.500 KK

Film Mawar Putih, yang dirilis di bioskop pada 18 Agustus 2016, menjadi film terakhirnya.

Bagi Rosnani, film tersebut memiliki makna khusus. Karya itu menjadi bentuk penghormatan kepada suaminya, Datuk Jamil Sulong, sutradara ternama Malaysia yang meninggal dunia pada 2014.

Rosnani menikah dengan Jamil Sulong pada 12 November 1953. Dari perjalanan rumah tangga tersebut, ia juga memperoleh pengalaman dan pengetahuan perfilman yang kemudian terus dikembangkan sepanjang kariernya.

Setelah meninggalkan dunia seni, Rosnani menyampaikan keinginannya untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga dan bepergian ke sejumlah negara.

Foto: Istw

Jejak Minang di Industri Film Melayu

Kehadiran Mak Nani di Bukittinggi menjadi pengingat bahwa sejarah diaspora Minangkabau tidak hanya dapat ditemukan dalam bidang perdagangan, pendidikan, maupun pemerintahan.

Jejak perantauan juga hadir melalui dunia seni.

Dari akar keluarga di Sungai Geringging, Padang Pariaman, Rosnani Jamil membangun perjalanan panjang di Malaysia. Namanya kemudian tercatat dalam sejarah perfilman Melayu sebagai aktris sekaligus sutradara, penulis skenario dan produser.

Kepulangannya ke Sumatera Barat dalam momentum festival film di Bukittinggi menghadirkan cerita yang lebih luas: tentang seseorang yang tumbuh dan berkarya di negeri jiran, tetapi tetap memiliki hubungan dengan tanah leluhur.

Bagi generasi muda, perjalanan Mak Nani dapat menjadi catatan bahwa karya seorang seniman dapat melampaui batas geografis.

Dari Sungai Geringging, namanya menyeberang ke Malaysia dan Singapura, lalu menjadi bagian dari sejarah panjang perfilman Melayu.

Kini, ketika Mak Nani hadir kembali di Ranah Minang, kisah itu seolah menemukan satu titik temu: tanah leluhur dan panggung seni yang telah membesarkan namanya. [Sumber dari Wikipedia dan berbagai sumber lainya]