Breaking NewsHeadlineJakartaNasionalNasionalNews

Menag Nasaruddin Umar Bawa Peluang Kerja Sama dari Italia dan Vatikan, Indonesia Jadi Model Moderasi Beragama

×

Menag Nasaruddin Umar Bawa Peluang Kerja Sama dari Italia dan Vatikan, Indonesia Jadi Model Moderasi Beragama

Sebarkan artikel ini

Menteri Agama Nasaruddin Umar membawa peluang kerja sama internasional setelah menghadiri forum tokoh agama dunia di Assisi, Italia. Inggris, Australia, Pakistan, serta dua universitas di Italia dan Vatikan menunjukkan ketertarikan berkolaborasi dengan Indonesia.

Foto istimewa

JAKARTA|KLIKGENZ.COM – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar membawa sejumlah peluang kerja sama internasional setelah melakukan pertemuan dengan tokoh agama dunia dalam forum internasional di Assisi, Italia.

Kunjungan tersebut tidak hanya mendapat respons positif terhadap gagasan diplomasi keagamaan yang disampaikan Indonesia, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dengan sejumlah negara serta perguruan tinggi di Italia dan Vatikan.

Nasaruddin mengatakan, beberapa perwakilan negara menyampaikan ketertarikan untuk menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) dan Masjid Istiqlal. Negara-negara tersebut di antaranya Inggris, Australia, dan Pakistan.

“Mereka ingin kerja sama dengan Kementerian Agama dan Istiqlal, terutama di Inggris, ya, kemarin Inggris, Australia, dan Pakistan,” ujar Nasaruddin dalam keterangan tertulis, Jumat (30/10/2026).

Menurutnya, ketertarikan sejumlah negara tersebut menunjukkan bahwa pengalaman Indonesia dalam menjaga keberagaman dan membangun kehidupan beragama yang moderat semakin mendapat perhatian dunia internasional.

Ia menilai Indonesia memiliki pengalaman penting dalam mengelola masyarakat yang terdiri atas berbagai agama, suku, budaya, dan latar belakang.

“Pokoknya Indonesia itu sekarang jadi model, ya, terutama moderasi beragama kita,” jelasnya.

Selain kerja sama antarlembaga, Nasaruddin mengungkapkan terdapat dua perguruan tinggi di Italia dan Vatikan yang tertarik membangun kolaborasi dengan Indonesia.

Kedua universitas tersebut ingin mempelajari pengalaman Indonesia dalam menjaga persatuan dan kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk.

“Ada dua universitas di Italia dan Vatikan itu mengajak kita kerja sama,” tambahnya.

Salah satu perguruan tinggi yang menunjukkan ketertarikan tersebut adalah PISAI (Pontificio Istituto di Studi Arabi e d’Islamistica), atau Institut Kepausan untuk Studi Arab dan Islam yang berada di bawah naungan Takhta Suci Vatikan.

Nasaruddin menilai peluang kerja sama tersebut dapat menjadi sarana pertukaran pengetahuan sekaligus pembelajaran bersama antara Indonesia dan Vatikan.

Baca Juga  Menang 2-0 Atas Afganistan, Indonesia Sempurna Jadi Juara Group C Piala Asia U-17 2025

Menurutnya, Indonesia memiliki pengalaman dalam mengelola kemajemukan masyarakat, sementara Vatikan mempunyai kekayaan literatur dan tradisi keilmuan yang dapat dipelajari lebih jauh.

“Mereka berkepentingan untuk belajar ke Indonesia. Kita pun juga, saya kira, perlu belajar di Vatikan,” lanjutnya.

Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Nasaruddin juga berkesempatan mengunjungi perpustakaan Vatikan. Ia mengaku menemukan banyak koleksi literatur Islam, termasuk sejumlah kitab yang relatif sulit dijumpai di Indonesia maupun negara-negara Timur Tengah.

Pengalaman itu semakin memperkuat pandangannya mengenai pentingnya pertukaran pengetahuan dan dialog antartradisi keagamaan dalam membangun hubungan internasional.

Gagasan Ekoteologi dan Diplomasi Keagamaan Indonesia Dapat Perhatian Dunia

Selain membuka peluang kerja sama pendidikan dan kelembagaan, Nasaruddin mengungkapkan gagasan ekoteologi dan diplomasi keagamaan yang disampaikan Indonesia dalam forum internasional di Assisi mendapat respons positif dari penyelenggara.

Menurutnya, penyelenggara forum memberikan apresiasi terhadap materi pidato Indonesia dan berencana menjadikan gagasan tersebut sebagai salah satu tema utama dalam agenda pertemuan berikutnya.

“Jadi, statement kita tentang ekoteologi dan tentang religious diplomacy itu nanti juga akan dijadikan tema besar yang akan datang,” kata Nasaruddin.

Ia menjelaskan, perhatian peserta forum tidak hanya tertuju pada konsep diplomasi keagamaan, tetapi juga pada Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah keberagaman.

Bahkan, kesempatan berbicara yang semula dijadwalkan selama tujuh menit berkembang menjadi sekitar 30 menit karena para peserta ingin mengetahui lebih jauh mengenai pengalaman Indonesia dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila.

“Karena mereka itu tertarik, minta dijelaskan tentang Pancasila. Pancasila itu bisa menjadi bukan hanya nilai-nilai Indonesia, tetapi juga bisa menjadi nilai-nilai universal,” sambungnya.

Baca Juga  Sidang Isbat Idulfitri 2026: Hilal Belum Penuhi Kriteria, 1 Syawal Berpotensi 21 Maret

Nasaruddin menambahkan, sejumlah gagasan kerja sama antarumat beragama yang sebelumnya dikembangkan melalui Masjid Istiqlal juga mendapat perhatian dari peserta forum.

Ia menyebut April tahun depan sebagai salah satu momentum untuk melanjutkan pembahasan dan penjajakan kerja sama tersebut.

Vatikan Harapkan Penguatan Hubungan dengan Indonesia

Dalam kunjungan ke Italia dan Vatikan, Nasaruddin juga berkesempatan diterima oleh Menteri Luar Negeri Vatikan.

Pertemuan tersebut membahas hubungan Indonesia dan Vatikan, terutama mengenai peluang memperkuat kerja sama serta menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan universal di tengah berbagai persoalan global.

Nasaruddin mengatakan, pihak Vatikan memandang Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim yang besar sekaligus memiliki pengalaman dalam menjaga kehidupan beragama yang moderat.

Menurutnya, salah satu kesamaan pandangan yang menjadi penghubung Indonesia dan Vatikan adalah komitmen untuk membela masyarakat yang mengalami penindasan tanpa membedakan latar belakang agama.

“Bahwa siapa pun yang tertindas itu harus dibela, dari kelompok agama mana pun,” tegasnya.

Ia menilai prinsip kemanusiaan tersebut dapat menjadi landasan penting dalam memperkuat hubungan Indonesia dan Vatikan, sekaligus mendorong kerja sama lintas agama dalam menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan.

Nasaruddin berharap berbagai respons positif yang diperoleh selama kunjungan tersebut dapat ditindaklanjuti menjadi program kerja sama yang konkret.

Kolaborasi itu diharapkan mencakup dialog antaragama, pengembangan pendidikan, pertukaran pengetahuan, serta penguatan diplomasi keagamaan di tingkat internasional.

“Dan itulah, saya kira, connecting yang sangat bagus antara Indonesia dan Vatikan,” pungkasnya.

Melalui berbagai peluang tersebut, Indonesia diharapkan semakin berperan dalam memperkuat dialog antaragama dan mempromosikan nilai-nilai moderasi, toleransi, serta kemanusiaan di tingkat global.[*]