Breaking NewsHeadlineNewsPadang PariamanSumbar

Mobil Ayla Kehilangan Tenaga Usai Isi Pertalite di Kataping

×

Mobil Ayla Kehilangan Tenaga Usai Isi Pertalite di Kataping

Sebarkan artikel ini

Pemilik mobil di Padang Pariaman menemukan sedimen hitam pada saringan BBM setelah kendaraan tersendat. Sampel Pertalite disebut telah diserahkan kepada Pertamina untuk diuji.

foto istimewa

PADANG PARIAMAN|KLIKGENZ.COM – Dugaan gangguan pada bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite kembali menjadi keluhan masyarakat di Sumatera Barat (Sumbar). Kali ini, seorang pemilik mobil Daihatsu Ayla mengaku kendaraannya kehilangan tenaga dan tersendat setelah mengisi Pertalite di SPBU Bandara Kataping, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman.

Pemilik kendaraan, Topit Marliandi, mengungkapkan bahwa dirinya menemukan sedimen menyerupai pasir berwarna hitam pada saringan bahan bakar mobilnya setelah tangki kendaraan dibongkar di bengkel pada Minggu (18/10/2026) pagi. Selain itu, Pertalite yang ditemukan di dalam kendaraan disebut tampak berwarna keabu-abuan.

“Di saringannya ada sedimen, pasir warna hitam dan kemudian Pertalite berwarna keabu-abuan,” ungkap Topit kepada Katasumbar, Minggu siang.

Menurut penuturannya, gangguan tersebut mulai dirasakan setelah dirinya mengisi Pertalite di SPBU Bandara Kataping pada Sabtu (17/10/2026) sekitar pukul 11.44 WIB.

Saat itu, Topit membeli 10 liter Pertalite senilai Rp100.000 secara tunai melalui Pompa 02 di SPBU bernomor 13.255.523. Pengisian BBM tersebut dilayani oleh operator berinisial E.

Tidak lama setelah meninggalkan area SPBU, Topit merasakan perubahan pada performa mobilnya. Mesin kendaraan tidak lagi bekerja seperti biasanya dan kehilangan tenaga ketika pedal gas diinjak.

“Mesinnya tidak berjalan normal seperti biasanya. Saat digas, kecepatannya hanya bisa mencapai 20 km/jam. Begitu dicoba naik ke kecepatan 30 hingga 40 km/jam, mesin sudah tidak mau merespons dan hilang tenaga,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat Topit mengeluhkan performa kendaraannya kepada pihak pengelola SPBU Kataping. Ia menyebut telah menyampaikan laporan secara lisan kepada pihak manajemen setelah mengalami gangguan tersebut.

Salah seorang perwakilan manajemen SPBU disebut menyarankan agar kendaraan diperiksa terlebih dahulu di bengkel resmi. Topit juga mengaku diminta menyiapkan rekaman video sebagai bukti untuk mendukung laporan yang disampaikan.

Baca Juga  Inklusi Keuangan Sumbar Capai 95,37 Persen, OJK Waspadai Pinjaman Ilegal dan Investasi Bodong

“Saya langsung lapor ke pihak SPBU. Saat itu, saya diminta menyiapkan rekaman video sebagai bukti sebelum kembali melaporkan kejadian tersebut,” tuturnya.

Pertamina Sebelumnya Terima 108 Aduan Kendaraan

Keluhan yang disampaikan Topit muncul di tengah adanya laporan gangguan kendaraan yang sebelumnya diterima Pertamina Patra Niaga di Sumatera Barat.

Sales Area Manager Retail Sumatera Barat Pertamina Patra Niaga, Fakhri Rizal Hasibuan, sebelumnya menyebut pihaknya telah menerima 108 aduan terkait kendaraan yang mengalami keluhan serupa. Pernyataan tersebut disampaikannya saat meninjau salah satu SPBU di Kota Padang pada Selasa (29/9/2026).

Fakhri mengatakan, Pertamina telah meminta masyarakat melaporkan gangguan kendaraan yang dialami dalam periode 26–27 September 2026. Pengaduan dapat disampaikan melalui Call Center Pertamina 135, posko pengaduan di SPBU, maupun langsung ke SPBU tempat konsumen melakukan pengisian BBM.

“Kita telah meminta masyarakat melaporkan kendala yang dikeluhkan sejak 26 September hingga 27 September 2026. Kita mengharapkan masyarakat melaporkan ke Call Center Pertamina 135, posko pengaduan yang ada di SPBU hingga ke SPBU tempat mengisi BBM,” jelas Fakhri.

Ia juga mengimbau pemilik kendaraan yang mengalami gangguan agar tidak ragu menyampaikan laporan, termasuk pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan barcode Pertamina.

Menurut Fakhri, penelusuran transaksi pengisian BBM dapat dilakukan melalui rekaman kamera pengawas atau CCTV yang tersedia di SPBU.

“Kita akan melakukan tracing dari CCTV yang ada di SPBU,” katanya.

Sampel BBM Diharapkan Bisa Mengungkap Penyebab Gangguan

Meski ditemukan sedimen berwarna hitam pada saringan BBM dan terjadi gangguan performa kendaraan, temuan tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa Pertalite yang dibeli di SPBU Kataping menjadi penyebab kerusakan mobil Topit.

Baca Juga  Bupati JKA Klarifikasi Isu Penghentian Jembatan Darurat Anduriang, Sebut Ditolak Warga

Penyebab gangguan masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan teknis kendaraan dan pengujian sampel bahan bakar. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah masalah berasal dari kualitas BBM, kondisi sistem bahan bakar kendaraan, atau faktor teknis lainnya.

Sampel Pertalite yang dikeluhkan konsumen disebut telah diserahkan kepada Pertamina untuk diuji. Hasil pengujian tersebut diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai kondisi bahan bakar sekaligus membantu mengidentifikasi penyebab gangguan yang dialami kendaraan.

Topit berharap pengaduan konsumen dapat ditangani secara serius dan ditindaklanjuti secara transparan. Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan kenyamanan berkendara serta potensi kerugian yang harus ditanggung pemilik kendaraan.

“Pertalite adalah BBM subsidi untuk masyarakat. Ketika terjadi masalah, respons petugas seakan lambat dan kurang tanggap. Itu menunjukkan lemahnya pengawasan dan sistem penyaringan BBM, baik di tingkat SPBU maupun pasokan dari Depot Pertamina,” ujarnya.

Ia juga meminta pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta instansi terkait melakukan penelusuran menyeluruh terhadap pengaduan tersebut, termasuk memeriksa rantai distribusi BBM dari depot hingga SPBU di Sumatera Barat.

Menurut Topit, investigasi diperlukan untuk memastikan bahan bakar yang diterima masyarakat memenuhi standar kualitas yang ditetapkan.

Hingga penyebab gangguan kendaraan tersebut dipastikan melalui pemeriksaan teknis dan hasil pengujian sampel, dugaan masalah kualitas Pertalite di SPBU Kataping masih memerlukan verifikasi lebih lanjut. Hasil pemeriksaan diharapkan dapat memberikan kepastian kepada konsumen sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi pihak terkait dalam menjaga kualitas dan pengawasan distribusi BBM.[*]