PESISIR SELATAN|KLIKGENZ.COM – Aktivitas truk tronton pengangkut batu bara untuk kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Teluk Sirih yang melintasi jalan menuju kawasan wisata Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar), menjadi sorotan masyarakat. Kendaraan berat tersebut dinilai berpotensi mengancam keselamatan pengguna jalan, mengganggu kenyamanan wisatawan, hingga mempercepat kerusakan infrastruktur.
Mantan anggota DPRD Sumbar sekaligus tokoh masyarakat kawasan Mandeh, H M Tauhid, meminta pemerintah memberikan perhatian serius terhadap aktivitas angkutan batu bara yang melintasi jalan provinsi ruas Teluk Kabung–Sungai Pisang.
Menurut Tauhid, berdasarkan pantauannya, cukup banyak truk pengangkut batu bara yang melintasi jalur tersebut. Sejumlah kendaraan yang digunakan bahkan berasal dari luar Sumatera Barat.
Ia menegaskan, pihaknya tidak bermaksud melarang aktivitas pengangkutan batu bara untuk memenuhi kebutuhan operasional PLTU Teluk Sirih. Namun, frekuensi kendaraan berat yang melintasi jalan menuju kawasan wisata tersebut perlu diatur agar tidak menimbulkan risiko bagi masyarakat dan pengunjung.
“Dari pantauan, banyak truk pengangkut batu bara yang melintas menggunakan kendaraan dari luar Sumbar. Kita tidak melarang, tapi mengapa melewati jalan provinsi ini dengan terus-menerus dan berpotensi membahayakan pengunjung lain,” kata Tauhid, Sabtu (17/10/2026).
Ia mengingatkan, ruas Teluk Kabung–Sungai Pisang merupakan jalan kelas III yang memiliki ketentuan mengenai dimensi dan muatan kendaraan. Karena itu, operasional truk pengangkut batu bara perlu memperhatikan aturan yang berlaku, termasuk batas muatan dan kelayakan kendaraan.
Truk Batu Bara Dikhawatirkan Ganggu Wisata Mandeh
Tauhid menilai, lalu lintas truk tronton pengangkut batu bara dapat memengaruhi kenyamanan perjalanan wisatawan yang hendak mengunjungi kawasan Mandeh melalui jalur Sungai Pisang.
Padahal, jalur tersebut memiliki daya tarik tersendiri karena menyuguhkan panorama laut dan pemandangan alam yang menjadi bagian dari pengalaman wisata menuju Mandeh.
Keberadaan kendaraan berat di jalur yang sama dikhawatirkan membuat wisatawan merasa kurang nyaman, bahkan mempertimbangkan kembali rencana kunjungan mereka.
“Orang bisa takut berwisata ke Mandeh melalui Sungai Pisang karena harus berbagi jalan dengan truk batu bara. Padahal, jalur itu menawarkan pemandangan laut yang menjadi daya tarik wisata,” ujarnya.
Menurutnya, pengelolaan lalu lintas menuju kawasan wisata perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kepentingan operasional industri dan pengembangan pariwisata daerah.
Kawasan Mandeh selama ini dikenal memiliki potensi wisata bahari yang perlu dijaga. Oleh karena itu, akses jalan yang aman dan nyaman menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung kunjungan wisatawan.
Khawatirkan Keselamatan dan Kerusakan Jalan
Selain berdampak terhadap sektor pariwisata, Tauhid juga menyoroti potensi kerusakan jalan akibat lalu lintas kendaraan berat yang berlangsung secara berulang.
Ia mengkhawatirkan risiko kerusakan infrastruktur akan semakin besar apabila truk yang melintas membawa muatan melebihi batas yang diizinkan.
Tauhid mengaku belum mengetahui adanya kecelakaan truk batu bara di jalur tersebut yang mengakibatkan korban jiwa. Meski demikian, ia menyebut kejadian truk terbalik di jalur itu sudah berulang kali terjadi.
Kondisi tersebut, menurutnya, perlu menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dan pihak terkait untuk memastikan keselamatan pengguna jalan tetap terjaga.
Pengawasan terhadap muatan kendaraan, kondisi teknis truk, serta kepatuhan terhadap ketentuan lalu lintas dinilai penting untuk mengurangi potensi kecelakaan.
Usulkan Pembatasan Jam Operasional Truk Batu Bara
Sebagai langkah jangka pendek, Tauhid mengusulkan agar pemerintah mengatur jam operasional truk pengangkut batu bara, terutama pada Jumat hingga Minggu ketika aktivitas wisatawan cenderung meningkat.
Ia menilai, pengaturan waktu melintas dapat menjadi jalan tengah agar kebutuhan pasokan batu bara untuk PLTU Teluk Sirih tetap terpenuhi tanpa mengganggu arus kendaraan wisatawan.
Dengan pengaturan tersebut, kendaraan angkutan batu bara diharapkan tidak terlalu banyak berpapasan dengan kendaraan pengunjung pada waktu-waktu ramai.
“Truk batu bara tidak perlu berhenti beroperasi. Namun, jam operasionalnya harus diatur agar tidak berbenturan dengan arus wisatawan, terutama pada akhir pekan,” katanya.
Menurut Tauhid, kebijakan tersebut dapat dipertimbangkan sebagai solusi awal sembari pemerintah mengkaji langkah yang lebih permanen untuk mengatasi persoalan lalu lintas di jalur Teluk Kabung–Sungai Pisang.
Minta Pemerintah Siapkan Jalur Alternatif
Untuk jangka panjang, Tauhid berharap pemerintah dapat mengkaji penyediaan jalur alternatif bagi angkutan batu bara menuju PLTU Teluk Sirih.
Keberadaan jalur alternatif dinilai dapat mengurangi pertemuan antara kendaraan berat dan wisatawan yang melintasi akses menuju kawasan Mandeh.
Dengan demikian, distribusi batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik tetap dapat berjalan, sementara keselamatan masyarakat, kondisi jalan, dan kenyamanan pengunjung kawasan wisata dapat lebih terlindungi.
Ia menegaskan, persoalan tersebut akan terus disuarakan karena menyangkut kepentingan masyarakat sekaligus masa depan pariwisata Mandeh.
“Saya akan tetap menyuarakan persoalan ini meskipun sudah tidak lagi menjadi pejabat. Ini menyangkut keselamatan masyarakat dan masa depan pariwisata Mandeh untuk anak cucu kita,” tuturnya.
Tauhid berharap pemerintah dan instansi terkait dapat menindaklanjuti persoalan tersebut melalui evaluasi lalu lintas, pengawasan kendaraan berat, serta pembahasan solusi bersama pihak-pihak yang berkepentingan.
Penataan lalu lintas di jalur menuju Mandeh diharapkan mampu menjaga kelancaran distribusi kebutuhan PLTU Teluk Sirih sekaligus mempertahankan akses wisata yang aman dan nyaman bagi masyarakat.[*]











