JAKARTA|KLIKGENZ.COM – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan pesisir, untuk meningkatkan kewaspadaan memasuki musim hujan. Ancaman banjir pesisir atau banjir rob berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia akibat fenomena alam dan dinamika kondisi laut.
Peringatan tersebut disampaikan BNPB melalui Surat Direktur Peringatan Dini Nomor B-79/BNPB/PDin/BP.03.02/10/2026 tertanggal 30 Oktober 2026. Surat itu berisi arahan mengenai langkah kesiapsiagaan dan peringatan dini dalam menghadapi potensi banjir rob.
Ancaman banjir pesisir dipicu oleh sejumlah fenomena, di antaranya fase Bulan Purnama pada 26 Oktober 2026, fase Perigee pada 29 Oktober 2026, serta dinamika oseanografi yang dapat memengaruhi kondisi pasang air laut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyebutkan terdapat 16 provinsi yang wilayah pesisirnya berpotensi terdampak banjir rob.
“Wilayah pesisir yang terancam meliputi pesisir Sumatra Utara, Sumatra Barat, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, hingga Maluku,” kata Berton, dikutip dari laman BNPB, Sabtu (31/10/2026).
Sebagai langkah antisipasi, BNPB meminta masyarakat pesisir membatasi aktivitas di sekitar pantai ketika terjadi pasang maksimum. Nelayan juga diimbau menunda aktivitas melaut apabila kondisi gelombang tinggi dinilai membahayakan keselamatan.
Selain itu, warga diminta mengamankan perahu, kendaraan, serta berbagai aset yang berpotensi terdampak kenaikan air laut.
Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga diminta mengoptimalkan pemantauan informasi cuaca dan kondisi laut dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Langkah lainnya meliputi pemeriksaan kesiapan tempat pengungsian, pembersihan saluran drainase kawasan pesisir, pengamanan tanggul pantai, serta penyiapan personel dan logistik untuk mendukung proses evakuasi apabila diperlukan.
BNPB menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah daerah, BPBD, dan masyarakat agar potensi bencana dapat diantisipasi sejak dini sehingga risiko korban jiwa maupun kerugian material bisa diminimalkan.
Kejadian Bencana di Indonesia Meningkat Jadi 2.247
Di sisi lain, BNPB mencatat kejadian bencana hidrometeorologi basah di berbagai wilayah Indonesia mengalami peningkatan hingga akhir Oktober 2026.
Berdasarkan data Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB per Jumat (30/10/2026), jumlah kejadian bencana di Indonesia mencapai 2.247 kejadian.
Peningkatan tersebut didominasi bencana hidrometeorologi. Dalam perkembangan terbaru, tercatat enam kejadian banjir tambahan di Sumatra Utara dan Aceh, serta dua kejadian cuaca ekstrem di Kalimantan Selatan dan Jawa Timur.
Dampak banjir cukup besar tercatat di Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara. Sebanyak 7.615 kepala keluarga (KK) terdampak, sementara 7.327 rumah dilaporkan terendam banjir.
Selain itu, banjir juga melanda Kota Medan dengan dampak terhadap 2.405 KK.
Berton menjelaskan, potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat hingga sangat lebat masih mengancam sejumlah wilayah Indonesia.
Aceh saat ini berstatus Siaga, sedangkan sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua berada dalam status Waspada.
Kondisi tersebut berkaitan dengan dampak tidak langsung Bibit Siklon Tropis 91B yang terpantau di Laut Andaman.
Masyarakat diminta terus memperhatikan perkembangan informasi cuaca dan peringatan dini dari instansi resmi, terutama ketika hujan dengan intensitas tinggi berlangsung dalam waktu lama.
BNPB Ingatkan Warga Siapkan Tas Siaga Bencana
Menghadapi meningkatnya potensi bencana hidrometeorologi, BNPB juga mengingatkan masyarakat untuk melakukan langkah-langkah pencegahan terhadap banjir, angin kencang, puting beliung, hingga tanah longsor.
Untuk mengantisipasi banjir, masyarakat diimbau bergotong royong membersihkan saluran air dan melakukan kegiatan susur sungai dengan tetap berada di bawah pengawasan petugas BPBD.
Warga juga perlu mengenali jalur evakuasi yang aman, memeriksa kondisi infrastruktur bendungan, serta menyiapkan tas siaga bencana.
Tas tersebut sebaiknya berisi kebutuhan darurat yang dapat digunakan setidaknya selama tiga hari, seperti makanan, air minum, obat-obatan, pakaian, dokumen penting, perlengkapan penerangan, dan kebutuhan dasar lainnya.
Sementara untuk menghadapi ancaman angin kencang dan puting beliung, masyarakat diminta memperkuat struktur atap rumah serta memangkas ranting pohon yang terlalu rimbun di sekitar permukiman maupun ruang publik.
Ketika angin kencang terjadi, warga diingatkan agar tidak berlindung di dekat bangunan atau benda yang berisiko roboh, seperti papan reklame, baliho, dan pohon berukuran besar.
Adapun masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan atau daerah rawan longsor diminta segera melakukan evakuasi mandiri apabila hujan lebat berlangsung lama, terutama jika terjadi di wilayah hulu.
BNPB juga mengingatkan warga untuk mengenali tanda-tanda awal tanah longsor, seperti munculnya retakan pada permukaan tanah maupun lantai rumah.
Pemantauan informasi cuaca dari sumber resmi menjadi langkah penting untuk mengantisipasi perubahan kondisi lingkungan.
BNPB berharap peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dan koordinasi lintas sektor dapat mengurangi risiko serta dampak bencana hidrometeorologi yang berpotensi terjadi selama musim hujan.[*]











