JAKARTA|KLIKGENZ.COM — Harga minyak dunia mengalami penurunan pada perdagangan Senin (5/10/2026). Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya ekspor minyak mentah dari Timur Tengah dan rencana pelepasan cadangan minyak darurat oleh negara-negara G7 yang menambah pasokan di pasar global.
Penurunan harga tersebut berlangsung di tengah kekhawatiran terhadap potensi kerusakan lebih lanjut pada infrastruktur energi di kawasan Teluk akibat perang yang melibatkan Iran.
Mengutip laporan CNBC, harga minyak mentah Brent turun 35 sen atau 0,34 persen menjadi US$101,90 per barel pada pukul 01.15 GMT.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 62 sen atau 0,68 persen menjadi US$90,49 per barel.
Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan terhadap harga minyak meskipun risiko geopolitik di kawasan penghasil energi utama dunia masih tinggi.
Pelepasan Cadangan Minyak G7 Tekan Harga
Salah satu faktor yang menekan harga minyak dunia adalah kesepakatan negara-negara G7 pada Jumat untuk melepas 100 juta barel solar dan minyak mentah dari cadangan darurat.
Negara-negara tersebut juga berjanji tidak menerapkan pembatasan ekspor energi setelah mendapat tekanan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan energi di pasar internasional dan meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan akibat konflik geopolitik.
Di sisi lain, volume ekspor minyak mentah dari Timur Tengah tercatat meningkat. Berdasarkan data pengiriman yang dirilis pada Senin, ekspor minyak mentah kawasan tersebut melampaui tingkat sebelum perang pada empat dari tujuh hari selama pekan terakhir September.
Peningkatan ekspor ini terjadi meskipun terdapat serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur penting perdagangan minyak dunia.
Analis KCM Trade, Tim Waterer, menilai keputusan negara-negara G7 untuk memanfaatkan cadangan strategis telah membantu meredakan kekhawatiran jangka pendek mengenai ketersediaan pasokan.
Menurutnya, peningkatan kembali ekspor Arab Saudi yang mendekati tingkat sebelum perang turut memberikan tekanan terhadap harga minyak.
Namun, pengiriman minyak tersebut disebut masih menghadapi biaya lebih tinggi dan penggunaan rute yang kurang efisien.
Kombinasi penambahan pasokan dan meningkatnya ekspor menjadi faktor yang mendorong harga minyak melemah, meskipun risiko gangguan infrastruktur energi di kawasan Teluk masih membayangi pasar.
Ancaman Serangan ke Fasilitas Minyak Saudi
Di tengah penurunan harga minyak, situasi keamanan di kawasan Timur Tengah masih menjadi perhatian pasar energi global.
Kelompok Houthi menyatakan telah meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak atau drone ke fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan wilayah Khurais, Arab Saudi.
Kelompok tersebut menyebut serangan itu sebagai tanggapan atas 50 serangan udara dan rudal yang dilancarkan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman dalam kurun waktu 12 jam.
Namun, klaim mengenai serangan terhadap fasilitas minyak tersebut belum mendapatkan konfirmasi dari pihak Arab Saudi berdasarkan informasi dalam laporan sumber.
Pada Minggu, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi juga menyatakan akan melancarkan operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai kelompok Houthi yang mendapat dukungan Iran.
Perkembangan tersebut menambah ketidakpastian terhadap keamanan infrastruktur energi dan jalur distribusi minyak di kawasan.
Aramco Pangkas Harga Minyak untuk Pasar Asia
Faktor lain yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah keputusan Saudi Aramco memangkas harga minyak mentah untuk pasar Asia bagi pengiriman November.
Pemangkasan tersebut dilaporkan membawa harga minyak ke level terendah dalam enam tahun terakhir.
Langkah ini menjadi perkembangan penting bagi pasar Asia, yang merupakan salah satu tujuan utama ekspor minyak dari Arab Saudi.
Perubahan harga jual minyak dari produsen utama dapat memengaruhi persaingan pasokan dan strategi pembelian perusahaan energi di kawasan tersebut.
Meski demikian, pergerakan harga minyak selanjutnya tetap akan dipengaruhi oleh keseimbangan antara pasokan, permintaan, biaya pengiriman, serta perkembangan konflik geopolitik.
OPEC+ Tunda Pembahasan Kuota Produksi 2027
Ketidakpastian pasar minyak juga meningkat setelah OPEC+ menunda peninjauan yang akan menentukan kuota produksi minyak bagi para anggotanya pada 2027.
Penundaan tersebut terjadi setelah perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mengganggu sejumlah proyek perluasan kapasitas produksi di Timur Tengah.
Gangguan tersebut menimbulkan ketidakpastian mengenai kemampuan produksi minyak negara-negara di kawasan itu pada masa mendatang.
Keputusan mengenai kuota produksi menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi jumlah minyak yang tersedia secara global serta arah pergerakan harga dalam jangka menengah.
Ukraina Berencana Tingkatkan Serangan ke Kilang Minyak Rusia
Sementara itu, perkembangan konflik di Eropa juga berpotensi memengaruhi pasar energi dunia.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan kepada Reuters dalam wawancara yang diterbitkan pada Sabtu bahwa negaranya akan meningkatkan serangan terhadap kilang-kilang minyak Rusia.
Ancaman tersebut menambah daftar risiko geopolitik yang dapat memengaruhi produksi, pengolahan, dan distribusi minyak dunia.
Dengan meningkatnya pasokan dari pelepasan cadangan G7 dan ekspor Timur Tengah, harga minyak saat ini menghadapi tekanan penurunan. Namun, konflik di Timur Tengah, ancaman terhadap fasilitas energi, serta ketidakpastian produksi global masih menjadi faktor yang dapat memicu perubahan harga pada perdagangan berikutnya.[*]











