Breaking NewsEkonomiHeadlineJakartaNasionalNews

BI Terus Pantau Rupiah, Strategi Intervensi Belum Berubah

×

BI Terus Pantau Rupiah, Strategi Intervensi Belum Berubah

Sebarkan artikel ini

Rupiah melemah ke Rp18.089 per dolar AS di tengah kenaikan harga minyak dunia dan kekhawatiran konflik Timur Tengah. BI menyatakan belum mengubah strategi intervensi.

Foto istimewa

JAKARTA|KLIKGENZ.COM – Bank Indonesia (BI) terus memantau pergerakan nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar valuta asing yang dipengaruhi faktor global dan domestik. Meski mata uang Garuda mengalami pelemahan, BI menilai volatilitas yang terjadi masih dalam batas wajar sehingga belum ada perubahan strategi intervensi pasar.

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan pergerakan rupiah saat ini sangat bergantung pada dinamika penawaran dan permintaan (supply-demand) di pasar valuta asing.

“Ini tergantung supply-demand hari ini. Pokoknya pergerakannya tetap terus kita monitor,” ujar Destry setelah menghadiri Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).

Destry menegaskan, BI tetap hadir di pasar untuk memantau perkembangan nilai tukar sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi fluktuasi rupiah.

Menurutnya, volatilitas yang terjadi belakangan ini masih tergolong biasa. Karena itu, BI belum melihat perlunya perubahan strategi intervensi yang selama ini dijalankan.

“Enggak, enggak (ada perubahan strategi intervensi). Ini volatilitas biasa. Tapi kita kan ada terus, monitor di pasar,” tegasnya.

BI juga terus mendalami berbagai faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah, baik yang berasal dari kondisi perekonomian global maupun perkembangan di dalam negeri.

Rupiah Melemah ke Rp18.089 per Dolar AS

Pada perdagangan Senin (26/10/2026), nilai tukar rupiah dibuka melemah 9 poin atau sekitar 0,05 persen ke level Rp18.089 per dolar Amerika Serikat (AS).

Baca Juga  Petahana Yul Ananda vs Eks DPRD Jon Hendri, 7 Tokoh Berebut Kursi Wali Nagari Malai III Koto di Pilwana 2026

Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah atau Asia Barat. Ketegangan di wilayah tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia hingga melampaui US$100 per barel.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih berpotensi tertekan oleh penguatan sentimen negatif dari perkembangan geopolitik global.

“Rupiah diperkirakan masih melemah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran eskalasi tensi geopolitik Timteng yang kembali membuat harga minyak naik di atas US$100 per barel,” kata Lukman, dikutip dari Antara, Senin (26/10/2026).

Kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor yang membebani pasar keuangan. Mengutip Xinhua, harga minyak mentah Brent mencapai level tertinggi sejak akhir April di tengah kekhawatiran meluasnya bentrokan di Timur Tengah.

Pada penutupan Sabtu (24/10), minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember melonjak 3,14 persen menjadi US$116,72 per barel. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember naik 3,82 persen ke posisi US$103,27 per barel.

Ketegangan Timur Tengah Tekan Sentimen Pasar

Kekhawatiran investor juga meningkat menyusul laporan mengenai potensi serangan terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November mendatang.

Situasi keamanan di kawasan tersebut semakin menjadi perhatian setelah media pemerintah Iran melaporkan serangkaian serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Teluk dan Selat Hormuz.

Baca Juga  Pemerintah Tetapkan Hari Berkabung Nasional 2–4 Maret 2026, Bendera Setengah Tiang untuk Try Sutrisno

Sebagai respons terhadap perkembangan situasi tersebut, Washington dilaporkan memerintahkan staf non-darurat beserta keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi.

Ketidakpastian geopolitik dapat memengaruhi pergerakan harga energi dan meningkatkan kehati-hatian investor di pasar keuangan global. Kenaikan harga minyak juga berpotensi menambah tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi, termasuk melalui peningkatan biaya impor.

Arus Modal Asing Masih Jadi Tekanan dari Dalam Negeri

Selain sentimen eksternal, pergerakan rupiah juga dipengaruhi kondisi pasar keuangan domestik. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah arus keluar modal asing atau capital outflow dari pasar saham Indonesia.

Lukman menyebut arus modal keluar masih relatif besar dengan nilai rata-rata harian mencapai Rp1 triliun hingga Rp2 triliun.

“Outflow masih cukup besar, rata-rata harian masih Rp1–Rp2 triliunan,” ungkapnya.

Kondisi tersebut menambah tantangan bagi rupiah di tengah penguatan tekanan dari pasar global. Pergerakan mata uang Garuda selanjutnya akan dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik, harga minyak dunia, arus modal asing, serta keseimbangan permintaan dan penawaran valuta asing.

Lukman memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp18.050 hingga Rp18.150 per dolar AS sepanjang perdagangan hari itu.

Di tengah berbagai tekanan tersebut, BI menegaskan akan terus memantau pasar dan mengevaluasi perkembangan nilai tukar. Bank sentral tetap mencermati faktor-faktor yang memengaruhi rupiah untuk menjaga stabilitas mata uang nasional.[*]