JAKARTA|KLIKGENZ.COM – Bank Indonesia (BI) terus memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen intervensi pasar di tengah meningkatnya gejolak ekonomi global yang berpotensi memengaruhi kondisi perekonomian domestik.
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa bank sentral akan terus memantau perkembangan pasar keuangan dan mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah.
“Intinya, Bank Indonesia akan selalu tetap berjaga di pasar,” kata Destry usai mengikuti rapat terbatas bidang ekonomi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin.
Destry menjelaskan, Presiden meminta BI untuk terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan stabilisasi sekaligus mengevaluasi efektivitasnya dalam menghadapi tekanan eksternal.
Instrumen tersebut meliputi intervensi di pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), serta pemberian insentif biaya lindung nilai yang telah diterapkan sejak akhir Juni.
Intervensi BI Dorong Aliran Dana Masuk
Menurut Destry, kombinasi intervensi pasar dan pemberian insentif tersebut telah memberikan dampak positif terhadap pergerakan pasar keuangan domestik. Kebijakan itu juga membantu menarik likuiditas di tengah ketidakpastian arah suku bunga global.
Ia menyebutkan, langkah stabilisasi yang dilakukan BI telah mendatangkan aliran dana masuk melalui instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dengan nilai sekitar 8 miliar hingga 9 miliar dolar AS.
“Dan hingga saat ini sudah bisa mendatangkan aliran dana masuk, baik dalam bentuk efek swap ataupun dalam bentuk DNDF senilai sekitar 8 miliar sampai 9 miliar dolar AS,” paparnya.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi BI untuk menjaga ketahanan pasar keuangan nasional, khususnya ketika pergerakan mata uang domestik menghadapi tekanan akibat dinamika ekonomi internasional.
BI Waspadai Kenaikan Inflasi Pangan
Selain menjaga nilai tukar rupiah, BI juga menaruh perhatian terhadap perkembangan inflasi. Stabilitas harga dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung keberlangsungan aktivitas ekonomi nasional.
Destry melaporkan bahwa inflasi inti pada September masih terkendali, yakni berada di level 2,8 persen. Namun, BI memberikan perhatian khusus terhadap inflasi kelompok pangan bergejolak atau volatile food yang telah mencapai sekitar 5 persen.
Kenaikan inflasi pangan tersebut menjadi perhatian karena harga komoditas pangan dapat memengaruhi pengeluaran rumah tangga dan daya beli masyarakat.
Untuk mengantisipasi tekanan lebih lanjut, BI akan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertanian. Sinergi tersebut diarahkan untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga pangan agar inflasi kelompok tersebut kembali berada dalam sasaran yang ditetapkan.
BI menargetkan inflasi secara keseluruhan berada pada kisaran 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen, atau sekitar 1,5–3,5 persen.
Suku Bunga Global Masih Jadi Tantangan Rupiah
Di sisi eksternal, Destry mengingatkan bahwa volatilitas pasar keuangan global masih tinggi. Salah satu penyebabnya adalah kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan lebih lama oleh sejumlah negara maju ketika inflasi di negara-negara tersebut masih berada di atas target.
Kondisi itu berpotensi memengaruhi arus modal internasional dan pergerakan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Destry menambahkan, probabilitas kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve pada Oktober diperkirakan semakin kecil. Meski demikian, perkembangan kebijakan moneter AS tetap menjadi salah satu faktor yang dipantau BI dalam menjaga ketahanan rupiah.
Dengan berbagai instrumen stabilisasi dan penguatan koordinasi pengendalian inflasi, BI berupaya menjaga stabilitas makroekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.[*]











