JAKARTA | KLIKGENZ.COM — Pernyataan Wakapolri terkait kesiapsiagaan menghadapi isu aksi “Black September” pada 24 September mendapat sorotan dari Gen Z Bersuara.
Wakapolri sebelumnya menyampaikan perlunya kesiapsiagaan aparat dalam menghadapi potensi aksi tersebut serta mengingatkan agar situasi tidak berkembang menjadi apa yang disebut sebagai “gangguan nyata”.
Gen Z Bersuara menilai kewaspadaan aparat dalam menjaga keamanan merupakan hal yang wajar. Namun, organisasi tersebut meminta penggunaan narasi oleh pejabat kepolisian dipertimbangkan secara matang agar tidak justru membentuk persepsi ancaman maupun memicu kecemasan di tengah masyarakat.
Founder Gen Z Bersuara, Rio Ipan Doni, mempertanyakan konstruksi komunikasi publik tersebut.
“Kami memahami bahwa Polri harus melakukan antisipasi terhadap setiap potensi gangguan keamanan. Tetapi antisipasi tidak boleh dibangun dengan narasi yang justru membuat masyarakat cemas.”
Menurut Rio, apabila aparat memiliki indikator ancaman yang konkret, informasi tersebut sebaiknya disampaikan secara objektif, terukur, dan transparan.
Demonstrasi Jangan Disamakan dengan Tindakan Kriminal
Gen Z Bersuara menilai penggunaan istilah “Black September” dan “gangguan nyata” berpotensi membentuk persepsi bahwa momentum 24 September identik dengan ancaman keamanan.
Padahal, menurut mereka, penyampaian pendapat di muka umum merupakan bagian dari dinamika demokrasi dan tidak dapat serta-merta diposisikan sebagai gangguan keamanan.
Rio menegaskan pentingnya membedakan antara aksi demonstrasi dengan tindakan kriminal yang mungkin terjadi dalam sebuah aksi.
“Jangan mencampuradukkan antara demonstrasi dengan tindakan kriminal. Yang harus diantisipasi adalah pelanggarannya, bukan gerakan masyarakatnya.”
Ia mengatakan apabila terdapat peserta aksi yang melakukan kekerasan atau tindak pidana, aparat tetap dapat melakukan proses hukum berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Namun, peserta aksi secara keseluruhan tidak seharusnya dipandang sebagai potensi gangguan keamanan hanya karena menggunakan hak untuk menyampaikan pendapat.
Komunikasi Aparat Diminta Meredakan Kecemasan
Gen Z Bersuara juga menyoroti pentingnya komunikasi publik dari institusi keamanan.
Menurut mereka, semakin tinggi posisi seorang pejabat dalam institusi keamanan, semakin besar pula tanggung jawab dalam menggunakan bahasa kepada publik.
Pernyataan terkait potensi gangguan keamanan dinilai dapat memengaruhi persepsi masyarakat, pelaku usaha, peserta aksi hingga aparat yang berada di lapangan.
Karena itu, informasi mengenai potensi kerawanan sebaiknya didasarkan pada indikator yang jelas dan disampaikan secara proporsional.
Gen Z Bersuara mengingatkan agar istilah yang digunakan tidak menciptakan kesan bahwa kerusuhan merupakan sesuatu yang pasti terjadi.
Pengamanan Diminta Tetap Proporsional
Selain komunikasi publik, Gen Z Bersuara meminta kesiapsiagaan aparat tidak berujung pada pengerahan kekuatan secara berlebihan.
Pengamanan aksi, menurut mereka, perlu tetap mengedepankan prinsip proporsionalitas, pendekatan humanis, dialog, serta perlindungan terhadap peserta aksi yang menyampaikan pendapat secara damai.
Mereka juga mendorong adanya pembedaan yang jelas antara peserta demonstrasi damai dan individu yang terbukti melakukan pelanggaran hukum.
Gen Z Bersuara Minta Kapolri Evaluasi Pernyataan Wakapolri
Atas persoalan tersebut, Gen Z Bersuara menyampaikan sejumlah sikap.
Pertama, Polri diminta memastikan adanya pembedaan tegas antara demonstrasi damai dan tindakan kriminal.
Kedua, komunikasi publik mengenai potensi kerawanan diminta dilakukan secara objektif, proporsional, dan tidak menimbulkan ketakutan yang tidak diperlukan.
Ketiga, pengamanan momentum 24 September diminta dilakukan secara terukur serta tidak menjadi instrumen intimidasi terhadap masyarakat yang menggunakan hak konstitusionalnya.
Keempat, apabila Polri memiliki informasi intelijen mengenai potensi kerusuhan, Gen Z Bersuara meminta adanya penjelasan secara proporsional mengenai indikator dan dasar penilaian tersebut.
Kelima, Gen Z Bersuara meminta Kapolri mengevaluasi pernyataan Wakapolri, terutama terkait penggunaan istilah “Black September” dan “gangguan nyata”.
Menurut mereka, evaluasi diperlukan agar komunikasi institusi kepolisian tidak menimbulkan stigma terhadap gerakan masyarakat sipil atau membangun persepsi ancaman sebelum terjadi pelanggaran hukum.
DPR RI Diminta Jalankan Fungsi Pengawasan
Gen Z Bersuara juga meminta DPR RI merespons pernyataan tersebut melalui fungsi pengawasan.
DPR, khususnya komisi yang membidangi persoalan hukum, keamanan, dan HAM, dinilai perlu meminta penjelasan kepada Polri mengenai dasar penilaian kerawanan, kesiapan pengamanan, serta jaminan perlindungan terhadap hak masyarakat dalam menyampaikan pendapat.
Mereka juga meminta pemerintah dan aparat keamanan memastikan ruang demokrasi tetap terbuka.
Kritik dan demonstrasi damai, menurut Gen Z Bersuara, tidak boleh dikriminalisasi. Sementara tindakan yang terbukti melanggar hukum harus tetap diproses berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.
“Keamanan dan Demokrasi Harus Berjalan Beriringan”
Gen Z Bersuara menilai keamanan dan demokrasi bukan dua kepentingan yang harus dipertentangkan.
Aparat keamanan memiliki tanggung jawab menjaga ketertiban, sementara negara juga memiliki kewajiban memastikan masyarakat tetap memiliki ruang untuk menyampaikan kritik.
“Polri tidak perlu takut terhadap suara rakyat. Yang perlu ditakuti adalah ketika rakyat kehilangan ruang untuk bersuara,” ujar Rio.
Ia menambahkan, negara yang kuat bukanlah negara yang membuat masyarakat takut menyampaikan pendapat, melainkan negara yang mampu menjaga keamanan sekaligus melindungi kebebasan sipil.
Gen Z Bersuara kemudian mengajak seluruh elemen masyarakat menghadapi momentum 24 September secara damai, tertib, kritis, dan bertanggung jawab.
Di sisi lain, aparat kepolisian didorong mengedepankan dialog, pendekatan humanis, perlindungan terhadap demonstran damai, serta penegakan hukum yang objektif dan proporsional.
“Jangan sampai kegaduhan yang ingin dicegah justru lahir dari pernyataan pejabat negara sendiri.”
Sumber: Rio Ipan Doni, Founder Gen Z Bersuara.











