Breaking NewsHeadlineJakartaNasionalNewsPeristiwa

Karhutla Tanjung Puting Meluas, 513 Hektare Terbakar, Prabowo Kirim 200 Pompa Air

×

Karhutla Tanjung Puting Meluas, 513 Hektare Terbakar, Prabowo Kirim 200 Pompa Air

Sebarkan artikel ini

BNPB mencatat 639,23 hektare karhutla masih ditangani di enam provinsi. Kebakaran Tanjung Puting menjadi perhatian pemerintah, sementara asap tebal mengganggu warga dan pengendara.

foto istimewa

JAKARTA | KLIKGENZ.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah semakin memprihatinkan. Kebakaran yang melanda kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan, telah mencapai sekitar 513,89 hektare. Di tengah upaya pemadaman, asap tebal juga mengganggu aktivitas masyarakat dan membahayakan kesehatan serta keselamatan pengguna jalan.

Pemerintah pusat memberikan perhatian khusus terhadap situasi tersebut. Presiden Prabowo Subianto memerintahkan penguatan penanganan karhutla, termasuk pengiriman 200 pompa air dan dukungan anggaran Rp2 miliar untuk pembangunan 200 titik bor air guna membantu petugas memadamkan api di lapangan.

Sementara itu, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyatakan terus mengintensifkan upaya pemadaman bersama instansi terkait. Pernyataan tersebut disampaikan setelah sejumlah relawan yang terlibat dalam pemadaman di kawasan Tanjung Puting menyatakan mundur dari kegiatan tersebut karena menilai dukungan terhadap upaya mereka belum maksimal.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, mengatakan pihaknya memahami beratnya kondisi yang dihadapi petugas dan relawan di lapangan.

“Kami memahami beratnya kondisi yang dihadapi tim di lapangan, terutama karena luasnya wilayah terdampak, sulitnya akses menuju titik api, serta karakteristik lahan gambut yang menyebabkan kebakaran sulit dipadamkan,” kata Ristianto, dikutip dari Antara, Senin (12/10/2026).

Relawan Mundur, Pemadaman Karhutla Tanjung Puting Hadapi Kendala

Sejumlah relawan dari Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan (YOHK) dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) yang bertugas di Kabupaten Kotawaringin Barat sebelumnya menyampaikan keputusan untuk menarik diri dari kegiatan pemadaman karhutla di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.

Dalam pernyataan yang disampaikan melalui media sosial, perwakilan relawan mengungkapkan bahwa keputusan tersebut diambil karena mereka merasa upaya pemadaman yang dilakukan belum mendapatkan dukungan secara maksimal. Padahal, para relawan mengaku telah mengerahkan kemampuan mereka untuk membantu mengatasi kebakaran.

Kondisi ini menjadi perhatian di tengah luasnya wilayah kebakaran dan sulitnya medan yang harus dihadapi petugas. Kawasan yang terdampak memiliki karakteristik yang menyulitkan mobilisasi peralatan dan penyaluran air ke titik api.

Menanggapi situasi tersebut, Kemenhut menjelaskan bahwa upaya meminta dukungan pemadaman melalui udara sebenarnya telah dilakukan sejak September 2026.

Ristianto menyebutkan, pihaknya telah mengajukan permohonan operasi pemadaman melalui udara menggunakan metode water bombing sejak 9 September 2026. Operasi tersebut sempat dilaksanakan pada 20–22 September 2026, tetapi kebakaran belum sepenuhnya terkendali.

Selanjutnya, pihak pengelola Taman Nasional Tanjung Puting kembali mengajukan permohonan operasi water bombing pada 2 Oktober 2026 untuk wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan.

Permohonan susulan disampaikan pada 9 Oktober 2026 dengan penambahan sasaran pemadaman di wilayah Pos Tanjung Harapan, Resor Pesalat.

Namun, pelaksanaan pemadaman melalui udara menghadapi kendala berupa kabut asap tebal yang membatasi jarak pandang. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan penting dalam pengoperasian helikopter demi menjaga keselamatan penerbangan.

“Koordinasi dengan instansi terkait terus dilakukan agar dukungan pemadaman udara dapat dilaksanakan sesuai kondisi operasional yang memungkinkan,” ujar Ristianto.

Prabowo Perintahkan Pengiriman 200 Pompa Air

Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus terhadap kebakaran yang terjadi di Taman Nasional Tanjung Puting. Ia menegaskan bahwa kawasan konservasi tersebut harus dijaga secara serius karena memiliki fungsi penting bagi kelestarian lingkungan.

Hal itu disampaikan Prabowo saat memimpin rapat perkembangan penanganan karhutla secara hybrid dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin (12/10/2026).

“Taman Nasional Tanjung Puting menjadi perhatian karena itu taman nasional,” kata Prabowo, sebagaimana dikutip dari keterangan Biro Sekretariat Presiden.

Baca Juga  69.115 Warga Aceh Utara Bertahan di Pengungsian, BNPB Salurkan Tenda Darurat Pascabanjir Besar

Dalam rapat tersebut, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, melaporkan adanya kebakaran baru di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting dengan luas sekitar 513,89 hektare.

Penanganan difokuskan melalui penguatan satuan tugas darat. Sementara itu, operasi pemadaman dari udara masih menghadapi hambatan akibat rendahnya jarak pandang yang disebabkan oleh asap tebal.

Pangdam XXII/Tambun Bungai, Mayjen TNI Zainul Arifin, turut melaporkan kondisi lapangan. Ia menjelaskan bahwa titik-titik kebakaran tersebar di sejumlah lokasi, berada di kawasan rawa, dan sulit dijangkau kendaraan.

Salah satu kebutuhan mendesak untuk mendukung pemadaman adalah pompa air berukuran kecil yang dapat digunakan di lokasi dengan akses terbatas.

Ketika Pangdam menyampaikan kebutuhan sekitar 50 unit pompa air, Prabowo langsung memutuskan memberikan bantuan dalam jumlah lebih besar.

“Berapa kau butuh pompa air? 50? Saya kirim 200,” ujar Prabowo.

Selain pompa air, petugas juga membutuhkan sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk pemadaman di kawasan rawa. Pangdam menjelaskan bahwa pengeboran pada kedalaman sekitar 10 hingga 15 meter berpotensi menyediakan sumber air di lokasi tertentu.

Menanggapi kebutuhan tersebut, Prabowo menyetujui dukungan anggaran Rp2 miliar untuk pembangunan 200 titik bor air.

“Saya kirim Rp2 miliar, 200 titik,” kata Presiden.

Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan petugas dalam memperoleh pasokan air dan mempercepat penanganan kebakaran, terutama di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Luas Karhutla di Enam Provinsi Capai 639,23 Hektare

Kepala BNPB Suharyanto menyampaikan bahwa luas kebakaran hutan dan lahan yang masih ditangani satuan tugas di enam provinsi mencapai 639,23 hektare berdasarkan laporan pada 13 Oktober 2026.

Enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan, terutama di wilayah dengan lahan gambut, meliputi Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau.

“Untuk provinsi prioritas lahan gambut ada di enam provinsi, Bapak Presiden: Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Riau. Untuk hari ini, yang terbakar yang masih ditangani oleh satgas di lapangan, jumlahnya adalah 639,23 hektare,” kata Suharyanto saat melaporkan perkembangan penanganan karhutla kepada Presiden.

Dari total luasan tersebut, kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting menjadi bagian terbesar, yakni sekitar 513,89 hektare.

Suharyanto menjelaskan, kebakaran baru di kawasan yang mencakup wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan menjadi salah satu faktor tingginya luas lahan yang masih dalam penanganan.

“Yang terbesar memang terjadi di Kalimantan Tengah. Kenapa paling besar? Karena baru saja ditemukan kebakaran baru di Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan. Per hari ini ada 513,89 hektare yang terbakar di sana. Meskipun bukan lahan gambut, lahan mineral, tetapi ini menjadi pekerjaan yang segera harus kami lakukan,” ujarnya.

Ia menambahkan, Pangdam di wilayah Kalimantan Tengah telah memimpin langsung penanganan kebakaran di lapangan. Penambahan personel dan peralatan satuan tugas darat juga dilakukan untuk memperkuat upaya pemadaman.

Pemerintah berharap dukungan peralatan, personel, dan koordinasi lintas instansi dapat mempercepat pengendalian api serta mencegah meluasnya kebakaran ke kawasan lain.

Prabowo Dorong Penambahan Polisi Hutan hingga 70 Ribu Personel

Selain memperkuat penanganan darurat, Prabowo menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas perlindungan kawasan hutan di Indonesia.

Ia meminta agar jumlah dan kemampuan polisi hutan diperkuat secara bertahap sehingga pengawasan kawasan hutan dapat dilakukan lebih efektif, termasuk untuk mencegah kebakaran dan menjaga kawasan konservasi.

Baca Juga  Buruh Desak DPR Akomodasi 11 Tuntutan dalam RUU Ketenagakerjaan

“Karena itu, tolong sampaikan ke MenPANRB, kalau memang saya minta 70 ribu polisi hutan karena ada maksud untuk menjaga hutan-hutan kita,” kata Prabowo.

Presiden juga meminta Kepolisian Negara Republik Indonesia membantu peningkatan kemampuan personel polisi hutan melalui pendidikan dan pelatihan.

“Kapolri nanti bisa bantu ya didik polisi hutan,” lanjutnya.

Penguatan polisi hutan diharapkan tidak hanya mendukung penanganan kebakaran ketika bencana terjadi, tetapi juga meningkatkan pengawasan dan pencegahan kerusakan hutan dalam jangka panjang.

Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting sendiri memiliki nilai penting bagi pelestarian keanekaragaman hayati. Karena itu, pengendalian kebakaran di kawasan tersebut menjadi bagian dari upaya melindungi ekosistem dan habitat satwa liar.

Asap Tebal Ganggu Pengendara dan Aktivitas Warga Banjarbaru

Dampak karhutla juga dirasakan masyarakat di Kalimantan Selatan. Kabut asap tebal menyelimuti Jalan Liang Anggang, Banjarbaru, hingga mengurangi jarak pandang dan mengganggu perjalanan pengguna jalan.

Pantauan tim detikKalimantan pada Selasa (13/10/2026) menunjukkan asap pekat menutupi ruas jalan. Pengendara kesulitan melihat kondisi di depan, sehingga harus meningkatkan kewaspadaan untuk menghindari kecelakaan dengan kendaraan lain, termasuk dari arah berlawanan.

Sejumlah pengendara memilih melaju dengan kecepatan sekitar 30–40 kilometer per jam. Mereka juga menyalakan lampu kendaraan agar lebih mudah terlihat oleh pengguna jalan lain.

Meski menggunakan helm dan masker, sebagian pengendara masih merasakan gangguan akibat asap yang terhirup serta mata yang terasa perih.

Seorang pengendara bernama Rian mengatakan kondisi asap tebal terjadi sekitar pukul 07.25 Wita. Ia mengingatkan bahwa keterbatasan jarak pandang dapat membahayakan keselamatan jika pengendara tidak berhati-hati.

“Ini asapnya tebal sekali. Sangat mengganggu pernapasan dan jarak pandang sangat terbatas. Ini apabila tidak hati-hati, bisa membahayakan pengendara,” kata Rian kepada detikKalimantan, Selasa (13/10/2026).

Keluhan serupa disampaikan Firman, warga Banjarbaru. Ia mengaku khawatir karena asap dirasakannya semakin tebal, sementara anak-anak masih harus mengikuti kegiatan sekolah seperti biasa tanpa pembelajaran jarak jauh.

“Tentu khawatir dengan kondisi ini, karena anak-anak sekolah normal, padahal asapnya terus menebal. Ini yang kita khawatirkan,” ujarnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan hutan, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan masyarakat, keselamatan transportasi, dan kelancaran aktivitas sehari-hari.

Masyarakat di wilayah terdampak perlu mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara dan imbauan pemerintah setempat. Penggunaan masker yang sesuai, pembatasan aktivitas luar ruangan saat asap pekat, serta peningkatan kewaspadaan ketika berkendara menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko paparan asap.

Penanganan Karhutla Membutuhkan Sinergi dan Dukungan Berkelanjutan

Meluasnya kebakaran di Taman Nasional Tanjung Puting memperlihatkan besarnya tantangan penanganan karhutla, terutama ketika titik api tersebar di wilayah yang sulit dijangkau dan operasi udara terkendala asap.

Dukungan pemerintah melalui pengiriman pompa air, pembangunan titik bor, penambahan personel, serta penguatan koordinasi antarlembaga diharapkan dapat membantu mempercepat pemadaman.

Di sisi lain, kondisi yang disampaikan relawan menjadi pengingat pentingnya koordinasi, dukungan operasional, dan komunikasi yang memadai bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan kebakaran.

Upaya pemadaman perlu berjalan beriringan dengan perlindungan keselamatan petugas dan relawan, pemantauan dampak asap terhadap masyarakat, serta langkah pencegahan agar kebakaran tidak kembali meluas.

Pemerintah kini menghadapi tantangan untuk mengendalikan api sekaligus melindungi kawasan konservasi dan masyarakat dari dampak kabut asap. Keberhasilan penanganan karhutla akan sangat bergantung pada kecepatan respons, kecukupan sumber daya, dan kerja sama seluruh pihak di lapangan.[*]