PADANG | KLIKGENZ.COM — Proyek-proyek raksasa bernilai puluhan miliar hingga triliunan rupiah yang digarap PT Hutama Karya (Persero) di Sumatera Barat (Sumbar) kini menjadi perhatian serius jajaran elite BUMN tersebut.
Tak sekadar laporan di atas meja, komisaris dan manajemen Hutama Karya turun langsung ke lapangan dalam agenda Management Walkthrough selama dua hari, menyisir sejumlah proyek strategis yang menjadi tulang punggung konektivitas dan ekonomi Ranah Minang.
Fokus utama peninjauan meliputi pembangunan Jalan Tol Padang–Sicincin, Flyover Sitinjau Lauik, Gedung SPPG Tipe 1 Kota Padang, hingga proyek penanganan dampak bencana Lembah Anai.
Langkah ini menegaskan bahwa Sumbar kini menjadi salah satu episentrum pembangunan infrastruktur strategis nasional.
Tol Padang–Sicincin Jadi Sorotan Kritis
Dalam sesi awal, perhatian tertuju pada progres Jalan Tol Padang–Sicincin—bagian penting dari jaringan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang nantinya menghubungkan Padang hingga Pekanbaru, Riau.
Namun di balik ambisi besar tersebut, Dewan Komisaris menyoroti satu persoalan krusial: pembebasan lahan.
Isu ini dinilai berpotensi menghambat laju pembangunan jika tidak segera dituntaskan dengan pendekatan yang tepat.
Paparan teknis disampaikan langsung oleh Direktur Proyek Sri Hastuti Hardiningsih bersama tim, termasuk tantangan geografis khas Sumbar yang dikenal ekstrem dan kompleks.
Lembah Anai Dikebut, Jalur Vital Harus Pulih
Kunjungan kemudian berlanjut ke kawasan Lembah Anai—jalur vital penghubung Padang dan Bukittinggi yang sempat lumpuh akibat bencana banjir pada November 2025.
Manajemen mengapresiasi percepatan pekerjaan di lokasi ini, mengingat perannya yang sangat strategis dalam mobilitas masyarakat dan distribusi logistik.
Namun demikian, aspek administrasi dan tata kelola tetap menjadi perhatian serius untuk menghindari potensi masalah di masa depan.
Flyover Sitinjau Lauik, Solusi Jalur Rawan Kecelakaan
Sesi terakhir difokuskan pada proyek Flyover Sitinjau Lauik—salah satu proyek paling dinanti karena akan menggantikan jalur ekstrem Padang–Solok yang selama ini dikenal rawan kecelakaan.
Proyek ini menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), dengan kolaborasi antara Hutama Karya, anak usaha HKI, dan PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik (HPSL).
Dewan Komisaris mengapresiasi progres konstruksi, namun kembali menegaskan pentingnya penyelesaian pembebasan lahan melalui pendekatan hukum sekaligus persuasif.
Pengawasan Ketat, Demi Dampak Nyata
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Komisaris Utama Denny Abdi bersama jajaran komisaris dan manajemen, termasuk unsur pengawasan internal seperti Komite Audit dan Komite Manajemen Risiko.
Plt. EVP Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, menegaskan bahwa Management Walkthrough bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk komitmen perusahaan memastikan proyek benar-benar berdampak bagi masyarakat.
“Infrastruktur yang dibangun dengan pengawasan ketat adalah fondasi konektivitas yang mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah secara berkelanjutan,” ujarnya.
Dampak Besar untuk Sumbar
Kehadiran proyek-proyek ini diproyeksikan mampu:
Memangkas waktu tempuh antarwilayah
Menekan biaya logistik
Membuka akses ekonomi baru
Meningkatkan daya saing daerah
Dengan skala dan nilai investasi yang besar, Sumatera Barat kini tak lagi sekadar daerah lintasan, melainkan menjadi pusat pertumbuhan baru berbasis infrastruktur modern. [*]











