HeadlineJakartaNews

BNPB Catat 11 Bencana dalam Sehari, Banjir Tanah Datar hingga Kekeringan Bondowoso Jadi Perhatian

Redaksi
×

BNPB Catat 11 Bencana dalam Sehari, Banjir Tanah Datar hingga Kekeringan Bondowoso Jadi Perhatian

Sebarkan artikel ini

BNPB melaporkan 11 kejadian bencana di Indonesia dalam sehari, termasuk banjir di Tanah Datar Sumbar, kekeringan Bondowoso, dan gerakan tanah di Cilacap.

JAKARTA | KLIKGENZ.COM — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan perkembangan situasi dan penanganan bencana di berbagai wilayah Indonesia dalam periode Rabu (13/5/2026) pukul 07.00 WIB hingga Kamis (14/5/2026) pukul 07.00 WIB.

Berdasarkan data BNPB, tercatat sebanyak 11 kejadian bencana terjadi dalam kurun waktu tersebut. Dari jumlah itu, lima kejadian menonjol dilaporkan berdampak signifikan dan masih dalam proses penanganan pemerintah daerah bersama unsur terkait.

Salah satu kejadian yang menjadi perhatian terjadi di Provinsi Sumatera Barat. Banjir melanda Kabupaten Tanah Datar pada Rabu (13/5/2026) dan menyebabkan sedikitnya 275 kepala keluarga (KK) atau 252 jiwa terdampak.

Selain itu, sebanyak 122 unit rumah dilaporkan terdampak banjir. Hingga saat ini proses pendataan masih terus dilakukan oleh petugas di lapangan.

Meski kondisi banjir mulai berangsur surut, sejumlah wilayah dilaporkan masih sulit dijangkau akibat akses jembatan yang putus.

BNPB menyebutkan, saat banjir terjadi Pemerintah Kabupaten Tanah Datar masih berada dalam masa transisi darurat menuju pemulihan pascabencana banjir dan longsor yang terjadi pada November 2025 lalu. Status tersebut berlaku sejak 28 Desember 2025 hingga 31 Juli 2026 mendatang.

Selain banjir di Sumbar, BNPB juga melaporkan kejadian kekeringan di Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur. Peristiwa yang terjadi pada Rabu (13/5/2026) itu berdampak terhadap 89 kepala keluarga.

Baca Juga  Pemerintah Usulkan Kenaikan Dana Parpol Tiga Kali Lipat, KPU dan Bawaslu Juga Dapat Tambahan Anggaran

Sebagai langkah penanganan, BPBD Kabupaten Bondowoso mendistribusikan bantuan air bersih menggunakan dua unit truk tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter.

Sementara itu di Provinsi Jawa Tengah, gerakan tanah di Kabupaten Cilacap yang terjadi sejak Selasa (6/5/2026) masih dalam tahap penanganan lanjutan.

Bencana tersebut berdampak pada 11 kepala keluarga dan menyebabkan empat kepala keluarga harus mengungsi. Selain itu, tercatat tiga rumah mengalami rusak ringan, tujuh rumah rusak sedang, dan satu rumah rusak berat.

Hingga kini akses jalan yang amblas belum dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Pemerintah daerah juga telah menetapkan status siaga darurat hingga 30 Mei 2026.

Di wilayah Sulawesi Tenggara, BNPB mencatat banjir di Kabupaten Kolaka Timur sejak Kamis (8/5/2026) berdampak pada 282 kepala keluarga, 276 unit rumah terdampak, dua rumah rusak ringan, dan empat rumah rusak sedang.

Pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat sejak 8 Mei hingga 22 Mei 2026. Saat ini kondisi banjir di wilayah tersebut dilaporkan telah surut.

Sedangkan banjir di Kabupaten Kolaka yang terjadi pada Selasa (12/5/2026) berdampak terhadap 595 kepala keluarga atau sekitar 2.062 jiwa serta 587 unit rumah terdampak.

Baca Juga  Harga Cabai di Padang April 2026 Naik, Rawit Merah Tembus Rp51 Ribu

Status tanggap darurat ditetapkan hingga 26 Mei 2026 dan kondisi genangan saat ini mulai surut. Warga pun mulai melakukan pembersihan rumah masing-masing.

Selain memantau bencana hidrometeorologi, BNPB juga terus mengikuti perkembangan aktivitas gunung api berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Hingga Rabu (13/5/2026), tercatat tiga gunung api masih berada pada status Level III atau Siaga, yakni Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Gunung Semeru di Jawa Timur.

BNPB juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul prakiraan cuaca BMKG yang menyebut sejumlah wilayah masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang.

Wilayah yang berpotensi terdampak cuaca ekstrem di antaranya Aceh, Kepulauan Riau, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Papua, dan Nusa Tenggara Barat.

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat terus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi banjir, gerakan tanah, cuaca ekstrem hingga kekeringan yang masih berpotensi terjadi di berbagai daerah Indonesia.[*]