NAN SABARIS | KLIKGENZ.COM – Pagi itu, jalan semenisasi di salah satu korong di Nagari Padang Kandang Pulau Air (PKPA) Kecamatan Nan Sabaris, Kabupaten Padang Pariaman Sumbar tampak kering dan ramai dilalui warga. Anak-anak berangkat sekolah, ibu-ibu membawa dagangan, dan sepeda motor melintas tanpa harus menghindari kubangan.
Beberapa tahun lalu, kondisi itu berbeda.
“Dulu kalau hujan, jalan ini seperti kolam. Licin, becek, susah dilewati,” kenang seorang warga sambil menunjuk jalan di depan rumahnya.
Perubahan itu mulai terasa sejak kepemimpinan Wali Nagari, Danil. Program semenisasi jalan dan perbaikan drainase perlahan mengubah wajah lingkungan mereka.
Namun bagi warga, cerita tentang Danil bukan hanya soal pembangunan.
Ketika Hujan Datang, Pemimpin Itu Ikut Basah
Malam hari saat hujan deras mengguyur, sebagian warga PKPA justru terjaga. Air perlahan naik, menggenangi halaman rumah hingga masuk ke dalam.
Di situasi seperti itulah, sosok Danil kerap muncul.
Bukan di balik meja, melainkan di tengah genangan.
“Kami sering lihat beliau datang malam-malam, celana digulung, ikut memantau air. Kadang bantu evakuasi juga,” ujar seorang warga Korong Subarang Padang.
Tak jarang, ia ikut memastikan dapur umum berjalan dan kebutuhan warga tercukupi.
Bagi warga, kehadiran itu lebih dari sekadar tugas.
“Itu yang bikin kami merasa tidak sendiri,” tambahnya.

Dari Jalan ke Surau, Perhatian yang Menyentuh
Di sudut lain nagari, suara anak-anak mengaji terdengar dari sebuah TPA. Fasilitas yang kini lebih layak membuat kegiatan belajar terasa nyaman.
Seorang guru mengaji menceritakan, bantuan yang datang bukan sekadar formalitas.
“Pak Wali datang langsung, lihat kondisi, lalu bantu fasilitas. Anak-anak jadi lebih semangat,” katanya.
Bagi masyarakat PKPA, perhatian terhadap hal-hal kecil seperti ini justru meninggalkan kesan mendalam.
Harapan yang Tumbuh dari Pengalaman
Kini, menjelang Pilwana Serentak 2026, obrolan di warung kopi hingga di halaman rumah mulai mengarah ke satu topik: siapa yang akan memimpin ke depan.
Namun bagi sebagian warga, pilihan itu terasa sederhana.
Bukan soal janji, tapi pengalaman yang sudah mereka rasakan.
“Kami tidak butuh yang banyak bicara. Yang penting saat susah, dia ada,” ujar seorang warga lainnya.
Dukungan yang tumbuh bukan dari kampanye, melainkan dari momen-momen kecil yang dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Dari jalan yang kini bisa dilalui tanpa takut jatuh, hingga malam-malam panjang saat banjir datang nama Danil perlahan menjadi bagian dari cerita warga itu sendiri.
Dan di Nagari Padang Kandang Pulau Air, cerita-cerita seperti inilah yang kini berubah menjadi harapan: agar pengabdian itu bisa terus berlanjut. [*]











