BENGKULU | KLIKGENZ.COM — Akademisi Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB), Dr. Elfahmi Lubis, menilai dunia pers saat ini tengah menghadapi perubahan besar dalam standar jurnalistik akibat derasnya perkembangan media digital dan media sosial.
Menurutnya, pers konvensional perlahan mulai kehilangan kecepatan sekaligus daya tarik di tengah arus informasi yang bergerak sangat cepat di berbagai platform digital. Kondisi tersebut membuat media pers berada dalam tekanan yang tidak ringan.
Elfahmi menjelaskan, derasnya arus informasi di media sosial turut memengaruhi pola pemberitaan dan kepatuhan terhadap standar jurnalistik. Banyak konten informasi yang lebih mengedepankan sensasi, kehebohan, dan isu-isu viral dibandingkan nilai edukasi serta kebenaran informasi.
“Akibatnya, akurasi dan verifikasi sering kali diabaikan. Bahkan tidak sedikit informasi yang beredar mengandung hoaks atau belum terverifikasi secara memadai,” ujarnya.
Menurut Elfahmi, situasi tersebut menjadi ancaman serius bagi masa depan pers Indonesia. Produk jurnalistik yang seharusnya menjunjung tinggi standar peliputan, verifikasi, dan akurasi justru dianggap lamban oleh sebagian masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa proses jurnalistik memiliki tahapan yang panjang dan ketat, mulai dari peliputan di lapangan, verifikasi data, penulisan berita, penyuntingan redaktur, hingga akhirnya dipublikasikan kepada masyarakat.
Di sisi lain, publik saat ini lebih terbiasa dengan pola konsumsi informasi yang cepat dan instan melalui media sosial.
“Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi pers. Bagaimana menjaga standar jurnalistik tetap kuat tanpa mengorbankan kecepatan penyajian informasi,” katanya.
Elfahmi menilai, jika pers tidak mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, maka bukan tidak mungkin masyarakat akan beralih ke sumber informasi lain meskipun belum tentu benar atau terverifikasi.
Ia menegaskan bahwa masyarakat pada dasarnya membutuhkan dua hal sekaligus dalam sebuah informasi, yakni kecepatan dan akurasi. Karena itu, dunia pers harus terus melakukan evaluasi dan pembenahan agar tetap relevan di tengah persaingan media yang semakin ketat.
“Tidak ada pilihan lain bagi pers selain mengikuti dinamika kebutuhan publik agar tetap dibutuhkan dan dipercaya masyarakat,” tutupnya. [*]
Sumber : RRI











